Medan | galasibot.co.id
Maraknya praktik perjudian ketangkasan bermodus mesin ikan-ikan di wilayah Belawan kembali menjadi perbincangan publik. Di tengah kesibukan aktivitas masyarakat pesisir dan kawasan industri, sejumlah lokasi permainan tersebut diduga beroperasi secara terbuka tanpa tersentuh penindakan hukum. Kondisi ini memunculkan kritik sosial yang tajam, terutama terkait efektivitas pengawasan aparat dan dampak sosial yang ditimbulkan.
Dari berbagai informasi yang beredar di masyarakat, jaringan permainan mesin ikan-ikan ini disebut-sebut dikendalikan oleh seorang wanita berinisial RP, warga Belawan. Sosok yang dikenal dengan julukan “ratu ikan-ikan” itu digambarkan sebagai ibu rumah tangga berparas cantik, namun memiliki pengaruh besar dalam mengatur operasional perjudian ketangkasan di berbagai titik. Meski hanya berstatus sebagai warga biasa, aktivitas yang dikaitkan dengannya terkesan kebal hukum.
Sejumlah lokasi yang kerap disorot berada di kawasan strategis. Salah satunya di Jalan Veteran Belawan, tepatnya sebuah ruko warna pink nomor 6 yang difungsikan sebagai kos-kosan. Dari luar tampak seperti bangunan hunian biasa, namun warga sekitar mencurigai adanya aktivitas mesin ikan-ikan di dalamnya. Suara mesin dan lalu lalang pengunjung pada jam tertentu menambah keresahan lingkungan sekitar.
Lokasi lain berada di kawasan Gabion, di area pergudangan ikan. Di tempat ini, aktivitas perjudian diduga menyatu dengan rutinitas bongkar muat, sehingga sulit terdeteksi. Sementara itu, di kawasan Terjun sekitar TPA Marelan, lingkungan yang kumuh dan minim pengawasan disebut dimanfaatkan sebagai lokasi operasional yang relatif aman dari pantauan.
Tak ketinggalan, di pinggir Sungai Titipapan dekat stasiun angkot 110, terdapat ruko gandeng dua berwarna krem yang disebut aktif pada malam hari. Penjagaan ketat dan sistem buka-tutup membuat warga enggan melapor karena takut akan dampak sosial maupun keamanan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa praktik yang diduga melanggar hukum ini seolah dibiarkan berlangsung? Kritik sosial pun menguat, menuntut transparansi dan ketegasan aparat penegak hukum agar tidak ada kesan pembiaran. Warga berharap penegakan hukum dapat berjalan adil, demi menjaga ketertiban sosial dan melindungi generasi muda dari dampak negatif perjudian.(*)











