JAKARTA I galasibot.co.id – Panitia Percepatan Provinsi Tapanuli (PPPT) resmi mengusung konsep Asta Cita Tapanuli yang dipadukan dengan pendekatan ekonomi Prabowonomics untuk disampaikan kepada Prabowo Subianto. Langkah ini ditujukan untuk memastikan rencana pembentukan Provinsi Tapanuli selaras dengan arah pembangunan nasional.
Ketua Umum PPPT, Yonge Sihombing, menegaskan bahwa Asta Cita Tapanuli merupakan peta jalan strategis yang memuat delapan agenda prioritas pembangunan. Sementara itu, Prabowonomics dijadikan kerangka ekonomi guna memastikan daerah otonomi baru tersebut memiliki fondasi yang kuat sejak awal.
“Kami akan sampaikan langsung kepada Bapak Presiden. Asta Cita Tapanuli dan semangat Prabowonomics ini untuk memastikan Provinsi Tapanuli mandiri, maju, dan sejahtera,” ujar Yonge dalam keterangannya di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Menurut Yonge, perjuangan pembentukan Provinsi Tapanuli bukanlah agenda baru, melainkan estafet panjang lintas generasi. PPPT, kata dia, hadir untuk merajut kembali simpul-simpul perjuangan yang sebelumnya belum berhasil diwujudkan.
“Ini perjuangan panjang. Kami tidak mulai dari nol. Kami melanjutkan amanah para pendahulu. Semua elemen harus dirangkul agar tidak ada lagi fragmentasi,” tegasnya.
Namun demikian, Yonge juga menyampaikan kritik terbuka kepada para tokoh dan panitia terdahulu yang dinilai belum berhasil mewujudkan Provinsi Tapanuli pada upaya sebelumnya, termasuk pada periode 2007. Ia menilai momentum saat ini harus dijadikan ruang refleksi bersama.
“Kami mengajak para orangtua kami untuk bersatu, tetapi juga berani introspeksi diri. Apa yang membuat dulu tertunda—apakah ego, miskomunikasi, atau strategi yang kurang tepat—harus dievaluasi agar tidak terulang,” katanya.
Struktur PPPT sendiri diperkuat sejumlah tokoh nasional dan daerah. Ketua Dewan Pembina dijabat Luhut Binsar Pandjaitan, sementara Ketua Dewan Penasehat adalah Nikson Nababan. Posisi Ketua Dewan Pakar dipegang Maruaseas Pandjaitan, dengan Sekretaris Jenderal Murniati Tobing dan Bendahara Umum Binton Simorangkir.
Adapun delapan poin Asta Cita Tapanuli mencakup penguatan sumber daya manusia, pembangunan ekonomi berbasis lokal, pelestarian budaya Batak, pemerataan infrastruktur, tata kelola pemerintahan yang bersih, ketahanan lingkungan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta konektivitas antarwilayah di kawasan Tapanuli.
Yonge menambahkan, integrasi dengan konsep Prabowonomics akan mendorong hilirisasi sumber daya, kedaulatan pangan dan energi, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
PPPT juga membuka ruang kolaborasi luas dengan pemerintah pusat, DPR, DPD, pemerintah daerah, tokoh adat, akademisi, hingga diaspora Tapanuli guna mempercepat terwujudnya Provinsi Tapanuli sebagai daerah otonomi baru yang berdaya saing.(*)











