Medan I galasibot.co.id – Gerakan moral dan sosial untuk menyelamatkan generasi bangsa kembali ditegaskan melalui gagasan besar Ketua Forum Komunitas Bela Nusantara Indonesia (FKBNI), Prof. Jon Piter Sinaga, M.Kes. Melalui program sosialisasi Kebijakan Anti “Tiga Dosa”—Narkoba, Korupsi, dan Kekerasan—FKBNI mendorong terwujudnya Sumatera Utara yang beradab dan bersinar.
Langkah konkret ini diwujudkan dalam kegiatan sosialisasi yang melibatkan 180 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah I, bekerja sama dengan FKBNI. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari DPW FKBNI Sumatera Utara yang dipimpin oleh Dr. Hadiwidodo, MA, sebagai Ketua DPW Sumut. Bertempat di Aula Fakultas Kedokteran UISU Medan, kegiatan ini menjadi ruang strategis dalam membangun kesadaran kolektif dunia akademik terhadap bahaya laten tiga dosa besar yang menggerogoti bangsa.
Tidak berhenti pada tataran wacana, DPD FKBNI Kota Medan juga menunjukkan komitmen nyata melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan UPTD Pelayanan Sosial Anak Remaja (PSAR) Tanjung Morawa, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, pada Rabu, 29 April 2026. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor demi perlindungan dan pembinaan generasi muda.
Dengan mengusung semangat “Membangun Sinergi, Mengabdi dengan Hati”, FKBNI Kota Medan menegaskan bahwa kehadiran organisasi bukan sekadar simbol eksistensi, melainkan panggilan untuk bertindak nyata. Anak-anak dan remaja di PSAR Tanjung Morawa dipandang sebagai masa depan bangsa yang membutuhkan perhatian serius, pendampingan berkelanjutan, serta sentuhan kasih yang tulus.
FKBNI berkomitmen untuk hadir secara langsung di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari solusi. Pendekatan humanis menjadi kunci, dengan menempatkan nilai empati, kepedulian, dan tindakan nyata sebagai fondasi gerakan. Semangat “menjadi sesama bagi yang terluka” menjadi ruh pengabdian, di mana organisasi ini ingin mendekat, mendengar, dan ikut serta dalam proses pemulihan sosial.
Gerakan Anti 3 Dosa ini tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga komunitas masyarakat. FKBNI percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten, dan dari hati yang tulus untuk melayani.
Di tengah tantangan zaman yang kompleks, dunia tidak lagi membutuhkan sekadar retorika, tetapi aksi nyata. FKBNI Kota Medan hadir menjawab panggilan tersebut—membawa harapan, membangun karakter, dan meneguhkan komitmen untuk Indonesia yang lebih bersih, beradab, dan bermartabat.(*)











