• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home News

Gereja Katolik Indonesia Tidak Tolak AI: PKSN XIII Pontianak Serukan Ruang Digital Jadi Sarana Kasih, Bukan Ruang Kebencian

PKSN XIII Respons Tantangan Etis Teknologi di Era Kecerdasan Buatan

Redaksi Galasibot.co.id
28 Mei 2026
/ News
0 0
0
Gereja Katolik Indonesia Tidak Tolak AI: PKSN XIII Pontianak Serukan Ruang Digital Jadi Sarana Kasih, Bukan Ruang Kebencian

BENTENG ETIS ERA DIGITAL: Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr. Didik), saat menyampaikan pemaparan dalam pembukaan Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (27/5/2026). Dalam forum tersebut, Mgr. Didik menegaskan sikap Gereja Katolik yang tidak menolak kecerdasan buatan (AI) namun menyerukan agar ruang digital dimanfaatkan secara kritis sebagai sarana mewartakan kasih dan menjaga martabat manusia. (Foto: Komsos KAP)

Share on FacebookShare on Twitter

PONTIANAK I galasibot.co.id – Gereja Katolik secara tegas menyatakan tidak menolak kemajuan teknologi komunikasi, internet, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini menjadi realitas keseharian masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr. Didik), dalam pembukaan Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Rabu (27/05/2026).

Menurut Mgr. Didik, pemanfaatan teknologi komunikasi modern bukan sekadar urusan alat teknis semata, melainkan sebuah sarana untuk menghadirkan wajah dan suara Tuhan yang penuh kasih di dunia digital.

Baca Juga

Menuju Panggung Dunia AFF U-19: Gerak Cepat Rico Waas Tata Stadion Teladan Jadi Venue Internasional

PPTN Lantik Pengurus Baru, Prof. Hoga Saragih Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

Blackout Sumbagut 2026: Lumpuhnya Sumut dalam Sekejap, dari Bus Listrik Mati hingga Krisis Air dan BBM

“Dunia digital sering menghadirkan kebisingan, sarana kebencian, dan ruang manipulatif. Jangan hanya jadi pengguna, tetapi teknologi harus menghadirkan wajah kasih Allah bagi dunia. Kemajuan teknologi harus jadi pilar penjaga martabat manusia,” ujar Mgr. Didik di hadapan ratusan peserta keuskupan se-Indonesia.

Gelaran nasional yang berlangsung sejak Selasa (26/05/2026) hingga Minggu (31/05/2026) ini menjadi tuan rumah bagi Keuskupan Agung Pontianak. PKSN XIII sendiri merupakan bagian integral dari peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, yang dirancang sebagai momentum strategis Gereja Katolik Indonesia untuk merespons tantangan etis di era digital lewat perpaduan refleksi iman, kajian akademis, dan budaya nusantara.

Harmoni Budaya dan Kritik Terhadap Fenomena Deepfake

Semangat persaudaraan dan keberagaman kental terasa sejak Misa Pembukaan di Katedral Santo Yosef Pontianak. Perarakan Mgr. Didik bersama Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, disambut hangat oleh perpaduan tarian Jai khas Flores dan tarian etnik Dayak, menciptakan suasana akulturasi budaya yang harmonis.

Dalam seminar nasional bertajuk “Membumikan Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 Tahun 2026”, para pegiat komunikasi diajak bersikap kritis terhadap produk teknologi, salah satunya adalah deepfake (rekayasa digital berbasis AI).

Pakar teknologi informasi sekaligus Rektor Universitas Pradita, Prof. Richardus Eko Indrajit, menegaskan bahwa AI hanyalah sebuah alat bantu dan tidak akan pernah bisa menggantikan eksistensi manusia.

“Wajah adalah ikon Allah, dia sakral. Wajah dan suara manusia tidak untuk dipalsukan karena sifatnya unik dan tak bisa ditiru,” tegas Prof. Eko. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI untuk merekayasa identitas harus memiliki izin resmi dan ditujukan mutlak untuk kemaslahatan yang baik.

Orang Muda: Jebakan Viralitas vs Keaslian Identitas

Tantangan era digital ini dibedah lebih dalam melalui sesi talkshow yang menyasar kaum muda. Ketua Komisi Kepemudaan KWI, RD. Frans Kristi Adi, menyoroti kecenderungan generasi muda saat ini yang seringkali terobsesi untuk viral dan terlihat “keren” di media sosial dengan memanfaatkan AI secara instan.

“Bisa saja kita terlihat hangat di media sosial, tapi di dunia nyata menjadi dingin,” tutur Romo Kristi Adi, mengingatkan agar teknologi tidak menumpulkan hati nurani.

Menanggapi hal tersebut, influencer lokal F. Deliana Winki atau yang akrab disapa Delly Sape’, membagikan pengalaman nyatanya. Sebagai pemain sape’—alat musik tradisional Dayak—Delly berhasil menembus panggung internasional hingga ke Vatikan justru karena berani menampilkan identitas budaya lokal yang asli, bukan realitas palsu buatan AI.

Peran Bapak: Penjaga Kehangatan Keluarga di Tengah Berisiknya AI

Tidak hanya bagi kaum muda, PKSN XIII juga memberikan ruang edukasi bagi kaum Bapak Katolik dalam menjaga benteng pertahanan keluarga. Penyanyi senior, Lisa A. Riyanto, hadir sebagai salah satu pembicara dan mengingatkan pentingnya komunikasi tatap muka di era gawai.

Lisa menekankan bahwa komunikasi yang melulu mengandalkan media sosial rentan memicu salah paham karena hilangnya intonasi dan penafsiran bahasa yang keliru. Ia membagikan kiat sederhana bagi para bapak agar keharmonisan keluarga tetap terjaga dari “kebisingan” AI:

  • Rutinitas Sederhana: Menjaga kebiasaan makan bersama dan saling berkabar via grup keluarga WhatsApp saat berjauhan.
  • Interaksi Langsung: Meluangkan waktu berbincang secara tatap muka tanpa interupsi layar gawai.
  • Permainan Tradisional: Mengajak anak bermain gasing atau kelereng guna mematikan ketergantungan anak pada game online.

Melalui rangkaian PKSN XIII ini, Gereja Katolik Indonesia mengajak seluruh umat untuk menjadi manusia digital yang otentik—tidak antipati terhadap kecerdasan buatan, melainkan bijak dan kritis dalam menggunakannya demi menjaga kesucian ruang publik digital.(#)

 

Source: Penulis berita : Wilfrid Sinaga
Tags: #EtikaDigitalKomsosKWI#GerejaKatolikDanAI#HariKomunikasiSosialSedunia60#PKSNXIIIKomsosKWIPontianak#TantanganDeepfakeKatolik
SendShareTweet
Kembali

Penyerahan Hewan Kurban Presiden di Humbahas Jadi Simbol Kehadiran Negara dan Penguat Kerukunan Umat

Lanjut

Prabowo Subianto Sumbang Dua Sapi Kurban ke Binjai, Satu Ekor Jenis ‘Belgian Blue’ Berbobot 1 Ton Hasil Peternak Lokal

Baca Juga

Menuju Panggung Dunia AFF U-19: Gerak Cepat Rico Waas Tata Stadion Teladan Jadi Venue Internasional
News

Menuju Panggung Dunia AFF U-19: Gerak Cepat Rico Waas Tata Stadion Teladan Jadi Venue Internasional

24 Mei 2026
PPTN Lantik Pengurus Baru, Prof. Hoga Saragih Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030
News

PPTN Lantik Pengurus Baru, Prof. Hoga Saragih Dikukuhkan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

24 Mei 2026
Blackout Sumbagut 2026: Lumpuhnya Sumut dalam Sekejap, dari Bus Listrik Mati hingga Krisis Air dan BBM
News

Blackout Sumbagut 2026: Lumpuhnya Sumut dalam Sekejap, dari Bus Listrik Mati hingga Krisis Air dan BBM

23 Mei 2026
118 Tahun Kebangkitan Nasional: KWI Serukan Pemulihan Luka Sosial dan Penyelamatan Demokrasi
News

118 Tahun Kebangkitan Nasional: KWI Serukan Pemulihan Luka Sosial dan Penyelamatan Demokrasi

22 Mei 2026
Sekolah Rakyat di Medan Capai 73 Persen: Harapan Baru Pendidikan Inklusif di Tengah Kejar Target Nasional
News

Sekolah Rakyat di Medan Capai 73 Persen: Harapan Baru Pendidikan Inklusif di Tengah Kejar Target Nasional

22 Mei 2026
Modernisasi Siber Polri Didorong DPR untuk Antisipasi Kejahatan Digital yang Kian Canggih
News

Modernisasi Siber Polri Didorong DPR untuk Antisipasi Kejahatan Digital yang Kian Canggih

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    Tiger Sumatera Binjai Kecewa: Tuntut Kompensasi Total Atas Pembatalan Kejuaraan Batam Internasional Taekwondo 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Penganiayaan Dilaporkan Sejak Januari, Korban Kecewa Penanganan di Polsek Duren Sawit Lambat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HARDIKNAS 2026: Seremoni dan Tantangan Substansi yang Belum Tuntas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dukung Program Kesbangpol Sumut, Ketum FKBNI Instruksikan Jajaran Pengurus Hadiri Rapat Deklarasi Anti Narkoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lantik Wakajati dan 7 Kajari Baru, Kajati Sumut Muhibuddin: Bentengi Diri dengan Iman dan Taqwa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In