Medan | galasibot.co.id — Kontingen Indonesia terus melanjutkan perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Jepang, yang berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026. Dengan kekuatan 432 atlet dari 35 cabang olahraga, Merah Putih membawa misi mempertahankan tradisi medali emas sekaligus memperbaiki capaian pada Asian Games sebelumnya.
Hingga memasuki hari kesembilan kompetisi, Indonesia telah mengamankan dua medali emas. Salah satunya dipersembahkan lifter Rahmat Erwin Abdullah, yang tampil gemilang di nomor 75 kilogram putra dengan total angkatan 366 kilogram sekaligus mencatat rekor dunia. Raihan tersebut menjadi emas kedua Indonesia pada Aichi-Nagoya 2026.
Perjalanan kontingen Merah Putih masih panjang. Sejumlah cabang olahraga andalan Indonesia masih berpeluang menambah medali, termasuk bulutangkis yang hingga 27 September masih menempatkan sejumlah wakil di babak semifinal.
432 Atlet dari 35 Cabang Olahraga
Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) telah menetapkan komposisi resmi kontingen Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Sebanyak 432 atlet diberangkatkan untuk bertanding pada 35 cabang olahraga. Mereka didampingi 148 pelatih dan ofisial, serta 32 personel Chef de Mission (CdM). Komposisi tersebut merupakan hasil evaluasi antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komisi Sport NOC Indonesia, dan federasi masing-masing cabang olahraga.
Pengiriman atlet dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan dan peluang prestasi. Pendekatan tersebut menempatkan rekam jejak prestasi serta kemampuan bersaing di level Asia sebagai bagian penting dalam proses evaluasi.
Dengan komposisi tersebut, kontingen Indonesia tidak hanya mengandalkan jumlah atlet, tetapi juga berusaha memastikan atlet yang tampil memiliki kesiapan untuk bersaing di arena Asian Games.
Skema Pendanaan Mandiri Tetap Menjadi Bagian Tim Indonesia
Salah satu karakteristik kontingen Indonesia pada Aichi-Nagoya 2026 adalah adanya cabang olahraga yang mengikuti Asian Games melalui skema pendanaan mandiri.
NOC Indonesia mencatat tiga cabang olahraga yang berangkat dengan skema tersebut, yakni tinju, anggar, dan tenis meja. Pembiayaan berasal dari federasi masing-masing serta dukungan mitra.
Meskipun menggunakan sumber pendanaan berbeda, NOC Indonesia menegaskan tidak ada pembedaan dalam status maupun tanggung jawab prestasi setelah atlet resmi menjadi bagian dari Tim Indonesia.
Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menyampaikan bahwa perbedaan sumber pembiayaan tidak mengubah tanggung jawab atlet ketika mengenakan seragam Merah Putih.
“Skema pendanaan boleh berbeda, tetapi target prestasi tetap sama.”
Menurut NOC Indonesia, keberangkatan secara mandiri juga menunjukkan keterlibatan federasi dan mitra dalam mendukung keikutsertaan atlet di ajang olahraga terbesar di Asia. Seluruh cabang olahraga tetap melalui proses evaluasi mengenai kesiapan atlet, peluang prestasi, dan aspek operasional.
Rahmat Erwin Tambah Emas untuk Indonesia
Angkat besi kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu cabang olahraga penting bagi Indonesia.
Rahmat Erwin Abdullah berhasil merebut medali emas nomor 75 kilogram putra pada 26 September 2026. Ia mencatat total angkatan 366 kilogram, terdiri dari 160 kilogram pada snatch dan 206 kilogram pada clean and jerk.
Catatan tersebut sekaligus mengantarkan Rahmat mencetak rekor dunia. Medali emas itu menjadi emas kedua Indonesia di Aichi-Nagoya 2026.
Prestasi Rahmat juga memperpanjang catatan keberhasilannya di Asian Games setelah sebelumnya meraih emas pada edisi Hangzhou.
Di cabang yang sama, Indonesia juga memperoleh medali perunggu melalui Luluk Diana Tri Wijayana, yang mencatat podium pada debutnya di Asian Games.
Bulutangkis Masih Menjadi Andalan
Bulutangkis kembali menjadi salah satu cabang yang menjadi perhatian dalam perjuangan Indonesia di Aichi-Nagoya.
Hingga 27 September, sejumlah wakil Indonesia masih bertahan di fase akhir turnamen. Ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin berhasil menembus semifinal, sementara Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri juga memastikan tempat di empat besar.
Di nomor tunggal putra, Alwi Farhan juga berhasil mencapai semifinal setelah memenangkan pertandingan perempat final. Sementara itu, perjalanan Jonatan Christie terhenti di babak perempat final.
Dengan masih bertahannya sejumlah wakil, bulutangkis berpotensi memberikan tambahan medali bagi Indonesia dalam lanjutan kompetisi.
Panjat Tebing, Dayung, Panahan dan Cabor Lain
Selain bulutangkis dan angkat besi, Indonesia juga menaruh perhatian pada sejumlah cabang olahraga yang memiliki rekam jejak prestasi di level Asia dan dunia.
Panjat tebing menjadi salah satu cabang yang mendapat perhatian karena prestasi atlet Indonesia dalam nomor speed. Dayung, panahan, atletik, menembak, wushu, serta sejumlah cabang bela diri juga menjadi bagian dari kekuatan kontingen Indonesia.
Namun, potensi medali tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan rekam jejak sebelumnya. Setiap pertandingan memiliki kondisi dan persaingan yang berbeda sehingga peluang tersebut tetap harus diwujudkan melalui performa di arena.
Belajar dari Jakarta-Palembang 2018 dan Hangzhou 2022
Perjalanan Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak terlepas dari evaluasi terhadap dua edisi sebelumnya.
Pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018, ketika menjadi tuan rumah, Indonesia menempati peringkat keempat klasemen akhir dengan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu, atau total 98 medali.
Sementara pada Asian Games Hangzhou 2022, yang penyelenggaraannya berlangsung pada 2023, Indonesia mengakhiri kompetisi di peringkat ke-13 dengan raihan 7 emas, 11 perak, dan 18 perunggu.
Perbedaan capaian tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi dalam persiapan menuju Aichi-Nagoya. Kali ini Indonesia kembali berlaga sebagai tamu, sehingga tantangan persaingan, adaptasi lingkungan pertandingan, dan efektivitas strategi menjadi bagian penting dalam perjalanan kontingen.
NOC Indonesia dan Kemenpora Tekankan Proses Seleksi
Penetapan kontingen Indonesia merupakan hasil proses evaluasi bersama antara Kemenpora, NOC Indonesia, dan federasi cabang olahraga.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengatakan proses tersebut dilakukan untuk memastikan atlet yang berangkat memiliki kesiapan dan peluang prestasi di level Asia.
Menurut Erick, yang menjadi perhatian utama bukan hanya hasil akhir, tetapi juga kesiapan atlet untuk bertanding dengan fokus, menjunjung sportivitas, dan memberikan performa terbaik.
Sementara itu, Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menekankan bahwa seluruh atlet yang telah masuk dalam Tim Indonesia memiliki tanggung jawab yang sama, terlepas dari sumber pembiayaan keberangkatannya.
Dengan demikian, skema APBN maupun pendanaan mandiri tidak menjadi pembeda dalam semangat perjuangan ketika atlet sudah mengenakan lambang Garuda.
CdM Pastikan Dukungan Operasional
Dari sisi operasional, Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Todotua Pasaribu memastikan koordinasi dengan Kemenpora, NOC Indonesia, dan federasi nasional terus dilakukan.
Persiapan mencakup keberangkatan, akomodasi, kebutuhan operasional pertandingan, hingga proses kepulangan atlet.
Peran CdM menjadi penting karena atlet membutuhkan dukungan nonteknis yang memungkinkan mereka berkonsentrasi pada pertandingan. Karena itu, kelancaran koordinasi menjadi salah satu bagian dari strategi pendukung prestasi kontingen.
Kemenpora mencatat bahwa sebanyak 432 atlet Indonesia akan berlaga di 35 cabang olahraga dengan dukungan 148 pelatih dan ofisial serta 32 personel CdM.
Dukungan Mitra untuk Merah Putih
Perjuangan kontingen Indonesia juga mendapat dukungan dari berbagai mitra strategis.
NOC Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Aice, Mills, BAIC, Kings Travel, TikTok, dan Perumnas yang memberikan dukungan bagi persiapan dan perjalanan Tim Indonesia menuju Aichi-Nagoya 2026.
Kolaborasi antara pemerintah, NOC Indonesia, federasi olahraga, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian dari ekosistem pembinaan olahraga nasional.
Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya membantu keikutsertaan Indonesia dalam satu ajang, tetapi juga memperkuat sistem olahraga nasional secara berkelanjutan.
Menjaga Tradisi Emas di Tengah Persaingan Asia
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 masih berlangsung hingga 4 Oktober. Karena itu, perolehan medali Indonesia masih dapat berubah seiring bertambahnya pertandingan dan nomor final.
Dua emas yang telah diraih sejauh ini memberikan modal penting bagi perjalanan Merah Putih. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana atlet-atlet Indonesia yang masih bertanding dapat mempertahankan konsentrasi dan menyelesaikan kompetisi dengan performa terbaik.
Bagi Indonesia, Asian Games bukan hanya tentang klasemen medali. Ajang ini juga menjadi ruang untuk mengukur perkembangan pembinaan olahraga nasional terhadap kekuatan-kekuatan olahraga Asia.
Dengan 432 atlet yang tersebar di 35 cabang olahraga, perjalanan Merah Putih di Jepang masih terus berlangsung. Setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk menambah medali sekaligus memperlihatkan sejauh mana olahraga Indonesia mampu bersaing di level kontinental.(*)










