MEDAN | galasibot.co.id
Di puncak Pusuk Buhit yang berkabut, sebuah rahasia besar tentang peradaban Batak bermula. Di sanalah, Tano Urat Namartua menjadi saksi bisu jejak pertama leluhur Toga Sinaga. Bukan sekadar lokasi geografis, tempat ini adalah titik koordinat spiritual yang menentukan arah sejarah ribuan keturunan hingga hari ini.
Galasibot secara eksklusif akan membedah buku terbaru: “Migrasi Ompu Jorang Raja Sinaga: Mencari Titik Temu Genealogis” dalam sebuah rangkaian tulisan berseri.
Bagi masyarakat Batak, asal-usul adalah kompas. Tulisan pertama ini membawa kita kembali ke Bona Pasogit, kampung asal mula marga Sinaga di Huta Urat. Berdasarkan dokumen sejarah dan tradisi lisan yang dihimpun, wilayah ini dikenal sebagai tanah yang diberkati (Namartua).
“Tano Urat Namartua asal mulanya Halak Batak, Huta Urat Bona Pasogit asal mulanya Margani Sinaga,” demikian kutipan sakral yang menjadi fondasi identitas ini. Di sinilah mandat luhur sebagai penjaga garis keturunan bermula, sebelum akhirnya gelombang migrasi membawa Pomparan (keturunan) menyebar ke seantero jagat.
Namun, mengapa migrasi itu terjadi? Dan bagaimana Ompu Jorang Raja Sinaga menempatkan posisinya dalam struktur besar Toga Sinaga? Penelusuran ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang mencari titik temu di tengah keragaman versi yang ada.
Buku ini hadir sebagai “Parhatian Sibola Timbang”—sebuah timbangan yang mencoba adil dalam melihat fakta sejarah. Kita tidak hanya diajak melihat nama-nama di atas kertas Tarombo, tapi merasakan denyut nadi perjuangan leluhur dalam menjaga kehormatan marga.
Simak kelanjutan serial ini pada bagian kedua: “Jejak Langkah Ompu Jorang Raja: Mengapa Leluhur Meninggalkan Urat?” hanya di Galasibot.co.id.(*)











