Medan I galasibot.co.id
Status Kaldera Toba sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp) kini berada di ujung tanduk. Asesor UNESCO dijadwalkan akan melakukan proses revalidasi pada 21–25 Juli 2025 mendatang. Jika hasil revalidasi tidak memenuhi standar penilaian, maka Kaldera Toba terancam didegradasi dan dicabut dari keanggotaan UGGp.
Saat ini, Kaldera Toba tengah berada dalam kondisi kartu kuning (yellow card), status yang mencerminkan peringatan serius dari UNESCO. Idealnya, geopark harus berada pada zona hijau (green card) yang menunjukkan kelayakan dan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, saat memimpin rapat koordinasi pada Senin, 30 Juni 2025, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan. Rapat tersebut dihadiri oleh tujuh kepala daerah dari kawasan Danau Toba: Bupati Samosir, Tapanuli Utara, Toba, Simalungun, Dairi, Karo, dan Humbang Hasundutan.
Dalam kesempatan itu, para kepala daerah menandatangani komitmen bersama mendukung revalidasi dan keberlanjutan Geopark Kaldera Toba. Bobby menekankan pentingnya koordinasi lintas daerah dan instansi untuk memastikan keberhasilan proses revalidasi.
“Tahun ini kita berupaya kembali meraih green card. Ada empat rekomendasi dari UNESCO yang harus segera ditindaklanjuti,” ujar Bobby.
Empat rekomendasi tersebut adalah:
Penelitian berkelanjutan dan pembuatan peta geologi.
Peningkatan visibilitas geopark melalui panel informasi publik yang mudah dipahami.
Penguatan warisan budaya dan nilai-nilai lokal.
Aktivasi event nasional dan internasional oleh Badan Pengelola.
Salah satu isu krusial yang dibahas adalah praktik pembakaran lahan oleh masyarakat di area geosite. Bobby menegaskan pentingnya edukasi publik dan pendampingan dari aparat kepolisian agar kawasan geopark terlindungi secara berkelanjutan.
Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan Kementerian Bappenas, Togu Santoso Pardede, mengingatkan bahwa UNESCO Global Geopark merupakan program resmi sejak 2015 dan berperan penting dalam mendukung geowisata berkelanjutan serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Saat ini, terdapat 229 UGGp di 50 negara, termasuk 12 di Indonesia. Kontribusi Kaldera Toba sebagai bagian dari jaringan global ini sangat signifikan, terutama dalam pelestarian geoheritage, geodiversity, biodiversity, dan culture diversity.
General Manager BPTCUGGp, Azizul Kholis, mengonfirmasi bahwa dua asesor UNESCO — Jose Brilha dari Portugal dan Jeon Yong Mun dari Korea Selatan — akan mendarat di Bandara Silangit dan melakukan peninjauan ke berbagai geosite seperti Taman Eden, Pulau Samosir, hingga Sipiso-piso dan Tongging.
“Bendera merah putih Indonesia sedang dipertaruhkan. Semoga rekomendasi UNESCO dapat segera dipenuhi,” tutup Bobby, penuh harap.(*)











