Setelah Tuhan memanggil Paus Fransiskus ke pangkuan-Nya pada 21 April 2025 sebagai hamba-Nya yang setia, dan dikebumikan dengan penuh khidmat pada Sabtu, 26 April 2025, dunia merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Banyak kisah dan kenangan yang dikenang tentang beliau: mulai dari masa kecil yang sederhana, kepribadian yang rendah hati, hingga pelayanannya yang penuh kasih sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia.
Dari sekian banyak warisan keteladanan beliau, izinkan saya menyoroti salah satu yang paling membekas dan relevan bagi kita semua: komitmen mendalam beliau terhadap kelestarian bumi, rumah kita bersama. Komitmen ini terpatri kuat dalam Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015—sebuah seruan profetik tentang pentingnya merawat bumi, ciptaan Tuhan, sebagai bentuk iman yang hidup dan nyata.
Paus Fransiskus dengan tegas menyuarakan keprihatinannya atas krisis ekologis global: pemanasan global, pencemaran air dan udara, deforestasi, serta kepunahan keanekaragaman hayati. Beliau mengecam gaya hidup konsumtif dan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Di balik semua itu, beliau mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ciptaan Tuhan dan melakukan pertobatan ekologis yang sejati.
Dalam pandangan beliau, perlindungan lingkungan bukan hanya isu teknis atau politik, tapi panggilan rohani dan etis. Maka dari itu, beliau mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan integral—yang menjawab kebutuhan manusia sekaligus melindungi bumi. Isu keadilan sosial juga tak luput dari perhatian beliau, terutama nasib kaum miskin dan rentan yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
Keprihatinan Paus Fransiskus ini sejalan dengan suara kenabian yang disuarakan oleh Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches / WCC) yang sejak 1948 juga telah aktif menyerukan kesadaran ekologis sebagai bagian dari kesaksian iman. Mereka menyerukan gereja-gereja di seluruh dunia untuk berdoa, merenung, dan bertindak bagi keselamatan bumi, sebagai tanggapan terhadap kehendak Allah Sang Pencipta.
Dalam konteks kita di Indonesia, khususnya Tano Batak dengan kawasan Danau Toba sebagai rumah kita bersama, ajaran Paus Fransiskus menjadi sangat relevan. Warisan lingkungan dan budaya yang kita miliki merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga. Oleh karena itu, Laudato Si’ dan seruan WCC harus kita terjemahkan dalam langkah konkret: konservasi warisan geologi, hayati, dan budaya, serta pembangunan kawasan berbasis geopark dan pemberdayaan masyarakat. Kesepakatan para bupati kawasan Danau Toba dengan Gubernur Sumatera Utara sejak 2012 perlu terus dihidupkan sebagai bentuk cinta tanah air dan iman yang ekologis.
Akhirnya, berpulangnya Paus Fransiskus meninggalkan luka, tetapi juga semangat untuk meneruskan perjuangan beliau. Semoga warisan iman dan cintanya pada bumi menjadi obor penuntun bagi kita semua. Terpujilah Engkau, Tuhan, atas kehidupan hamba-Mu yang setia ini.
“Laudato Si’, mi Signore — Terpujilah Engkau, Tuhanku.”
Beristirahatlah dalam damai, Paus Fransiskus. Cintamu pada bumi akan selalu hidup dalam hati kami.(Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., M.Si
Penggiat Lingkungan / Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI))











