Media sosial kita belakangan ini mendadak menjadi panggung “sidang” sejarah yang riuh. Dari kolom komentar TikTok hingga grup Facebook, perdebatan mengenai silsilah (tarombo) memanas. Ada kelompok yang mati-matian mempertahankan klaim garis keturunan dari Raja Batak, namun di sisi lain, muncul gelombang penolakan dari berbagai etnis yang secara tegas menyatakan: “Kami bukan bagian dari keturunan Raja Batak.”
Fenomena ini menarik, namun sekaligus mencemaskan. Perdebatan ini tak jarang bergeser dari diskusi historis menjadi sentimen keyakinan, ego kelompok, hingga hilangnya rasa hormat antar sesama. Kita seolah terjebak dalam labirin masa lalu, sibuk mencari “siapa kakek buyut siapa”, hingga lupa pada satu pertanyaan esensial: Untuk apa kita tahu asal-usul kita jika kita tidak tahu ke mana kita akan melangkah?
Krisis Identitas dan Hilangnya “Habonaron”
Riuhnya bantah-membantah silsilah di dunia maya sebenarnya adalah sinyal adanya krisis identitas. Minimnya akses ke sumber sejarah yang otentik dan hilangnya kearifan dari para tetua membuat generasi hari ini mudah terombang-ambing. Padahal, mengenal leluhur bukan sekadar soal urusan garis darah atau dominasi marga tertentu. Mengenal asal-usul adalah upaya menemukan “Kompas Hidup”.
Leluhur kita—terlepas dari apapun sebutan etnis yang kita pilih hari ini—telah mewariskan sebuah nilai abadi yang melampaui sekat-sekat silsilah, yakni: Habonaron Do Bona. Kebenaran adalah pangkal segalanya. Jika kita mengaku menjunjung tinggi leluhur namun hidup dalam hoaks, kebencian di media sosial, dan manipulasi sejarah, bukankah kita sedang mengkhianati nilai “Bona” (pangkal) itu sendiri?
Membangun Kembali “Rumah Kehidupan”
Di tengah kegaduhan ini, kita perlu melakukan jeda sejenak. Kita butuh narasi yang tidak hanya melihat ke belakang secara genealogis, tetapi melihat ke dalam secara teologis dan filosofis. Budaya tidak boleh hanya menjadi pajangan masa lalu, ia harus menjadi energi untuk masa depan.
Dalam kearifan yang sering kami sebut sebagai “Intan dari Girsang”, rumah kehidupan manusia yang kokoh harus ditopang oleh empat pilar integritas yang selaras dengan nilai universal dan firman Tuhan:
- Pangkataion (Berbicara Benar): Menghindari dusta dan fitnah di ruang digital.
- Pingkiran (Berpikir Jernih): Memfilter segala niat dengan hikmat.
- Pangulahonon (Bertindak dalam Kebenaran): Mewujudkan iman dalam perbuatan nyata.
- Panujuon (Visi yang Jelas): Menetapkan tujuan hidup yang mulia, bukan sekadar mengejar materi.
Menuju Buah “10 H”
Hasil akhir dari pengenalan jati diri yang benar bukanlah kemenangan dalam berdebat, melainkan buah kehidupan yang nyata. Kita merindukan generasi yang memiliki kepintaran (Hapistaron), kebijaksanaan (Habisuhon), kekuatan (Hagogoan), hingga mencapai keteguhan iman di garis akhir (Hasahaton).
Melalui kampanye “Pulang untuk Melangkah”, kami mencoba mengajak masyarakat—terutama para perantau dan generasi muda—untuk berhenti sejenak dari perdebatan silsilah yang melelahkan. Mari beralih ke ruang refleksi. Mari kita bedah kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur (khususnya dari perspektif Marga Sinaga Sipungka Huta) dan mengaitkannya dengan landasan firman Tuhan yang kokoh.
Penutup
Silsilah mungkin bisa diperdebatkan, namun kebenaran hidup (Habonaron) bersifat mutlak. Mengakui asal-usul dari “Pusuk Buhit” atau manapun titik asalnya, seharusnya membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati, bukan lebih sombong.
Jangan hanya bangga pada asal-usul, tapi banggalah jika asal-usulmu membuatmu tahu ke mana harus melangkah. Mari temukan kembali kompas itu dalam rangkaian diskusi yang lebih bermakna. Sampai bertemu di ruang perjumpaan.(*)











