Medan I galasibot.co.id
Jalan Flamboyan Raya, Kecamatan Medan Tuntungan menjadi saksi gemerlapnya Pawai Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-57 Kota Medan yang mencerminkan keragaman budaya dalam semangat keberagaman.
Dalam setiap langkah peserta pawai, keragaman budaya Sumatera Utara tercermin dengan megahnya dan menciptakan pemandangan yang memesona bagi ribuan penonton yang memadati jalan-jalan, Sabtu (11/5/2024)
Dari 21 kecamatan yang berada di ibukota Sumatera Utara, kafilah-kafilah mempersembahkan keunikan budaya daerah mereka dengan gagahnya. Mulai dari busana adat yang berkilau hingga tarian dan seni tradisional seperti sigale-gale, debus, dan reog, semuanya menambah warna dan kehangatan dalam even tersebut.
Wali Kota Medan, Bobby Nasution, yang diwakili oleh Wakil Wali Kota Medan, H. Aulia Rachman, dengan penuh kebanggaan menyambut kedatangan para peserta dari atas panggung utama. Tidak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh penting kota, namun juga dihadiri oleh unsur Forkopimda, pejabat daerah, dan pimpinan perangkat daerah lainnya, menggambarkan betapa besarannya acara ini bagi masyarakat Medan.
Pawai dimulai dengan keanggunan pasukan pembawa bendera merah putih, dilanjutkan dengan ritme merdu marching band yang menggetarkan hati setiap penonton. Kecamatan Medan Belawan, sebagai juara umum tahun lalu, dengan bangga mengarak tropi juara umum sebagai kafilah pertama yang tampil. Setelah itu, satu per satu, kecamatan-kecamatan lain menyusul, menghiasi jalan dengan kekayaan budaya mereka, hingga diakhiri oleh tuan rumah MTQ ke-57, Kecamatan Medan Tuntungan.
Namun, pesona pawai tidak hanya terletak pada peserta resmi dari pemerintahan. Para ibu pengajian, pelajar, organisasi pemuda, bahkan bilal jenazah, ikut meramaikan acara ini dengan kehadiran mereka yang penuh semangat. Antusiasme masyarakat dalam menyaksikan pawai taaruf sangatlah tinggi, terpancar dari sorak sorai dan tepuk tangan yang mengiringi setiap langkah kafilah.
Pawai Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-57 Kota Medan tidak hanya sekadar perhelatan budaya. Lebih dari itu, ia adalah perwujudan nyata dari semangat kebersamaan dalam keberagaman, mengikat tali persaudaraan di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Dengan penuh haru dan bangga, kita saksikan betapa indahnya kekayaan budaya yang kita miliki, menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarwarga, serta memperkuat identitas dan kebanggaan akan warisan nenek moyang.(*)
Penulis berita : Wilfrid Sinaga










