Medan | galasibot.co.id
Sinode VII Keuskupan Agung Medan (KAM) Tahun 2026 tingkat paroki resmi dibuka di Paroki Santa Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat, Medan, Minggu (11/1/2026). Pembukaan sinode dipimpin oleh Pastor Paroki, Pastor Aroon Waruwu, OSC, yang diawali dengan perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan penyalaan lilin sinode dan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya proses sinodal di tingkat paroki.
Dalam homilinya yang bertepatan dengan Hari Raya Pembaptisan Tuhan, Pastor Aroon menegaskan bahwa peristiwa pembaptisan Yesus merupakan puncak istimewa dari masa Natal, di mana Yesus menampakkan jati diri dan perutusan-Nya secara terbuka. Suara Bapa yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Kulah Dia berkenan,” menjadi peneguhan ilahi atas misi Yesus di tengah dunia.
“Kasih Allah tidak berhenti di surga, tetapi hadir dan menyentuh dunia nyata, masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam kehidupan kita sehari-hari dengan segala sukacita, luka, dan harapannya,” ujar Pastor Aroon.
Ia menekankan bahwa setelah diurapi oleh Roh Kudus, Yesus tidak memilih jalan kemuliaan, melainkan berkeliling untuk melayani. Yesus hadir di tengah orang kecil, orang sakit, orang berdosa, dan mereka yang terpinggirkan. Inilah, menurutnya, wujud Epifani sejati: Allah yang dekat, Allah yang berjalan bersama manusia.
“Suara dari surga itu juga menjadi panggilan bagi kita semua: Dengarkanlah Dia dan ikutilah Dia,” tegasnya.
Sinode VII: Perjalanan Iman Bersama
Pastor Aroon menjelaskan bahwa Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan Tahun 2026 bukan sekadar agenda struktural atau kegiatan administratif Gereja, melainkan sebuah perjalanan iman bersama. Sinode menjadi ruang bagi umat untuk berjalan bersama dalam terang Roh Kudus, mendengarkan kehendak Allah bagi Gereja dan dunia.
“Peran utama dalam sinode ini adalah Roh Kudus. Dialah yang memimpin Gereja, membuka hati dan telinga kita, agar kita sungguh mau mendengar, bukan hanya berbicara,” katanya.
Dalam semangat sinodal, setiap umat diajak untuk terlibat aktif tanpa kecuali. Sinode menjadi sarana untuk mendengarkan sukacita dan penderitaan umat, termasuk jeritan mereka yang kerap terabaikan, serta meneguhkan satu sama lain agar tidak ada seorang pun yang ditinggalkan.
Mewartakan Allah yang Bersolider
Melalui Sinode VII ini, seluruh umat diutus untuk mewartakan Allah yang hadir dan bersolider, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi terutama melalui kesaksian hidup. Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang menyembuhkan, merangkul, dan menghadirkan harapan, sebagaimana teladan Kristus sendiri.
“Semua orang mengambil peran untuk mewartakan Allah yang peduli dan berjalan bersama umat-Nya,” tutup Pastor Aroon.
Dengan dimulainya Sinode VII KAM Tahun 2026 tingkat paroki ini, umat Paroki Santa Maria Ratu Rosari diharapkan semakin setia mengikuti Kristus yang diurapi, yang berjalan bersama manusia, dan yang menyelamatkan dunia dengan kasih-Nya










