MEDAN I galasibot.co.id — Direktur UKW PWI Pusat, Aat Surya Safaat, menegaskan wartawan harus mampu berpikir kreatif, cepat membaca situasi, dan menemukan sudut pandang berbeda dalam menghadapi perubahan dunia jurnalistik yang berkembang pesat saat memberikan materi pada kegiatan Pra Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan PWI Sumatera Utara bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara secara daring, Jumat (29/5/2026), sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan UKW pada 2–3 Juni 2026 guna meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan di era digital.
Pada akhir paparannya, jurnalis senior Indonesia tersebut menekankan bahwa tantangan dunia pers saat ini semakin kompleks. Wartawan bukan hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga harus menghadapi derasnya arus informasi digital dan perubahan pola konsumsi berita masyarakat.
“Seorang wartawan tidak cukup hanya mampu menulis berita. Wartawan juga harus memiliki cara berpikir kreatif, cepat membaca situasi, dan mampu melihat peluang informasi dari berbagai sudut pandang,” ujar Aat.
Menurutnya, kreativitas bukan sekadar kemampuan membuat tulisan menarik, melainkan kemampuan membaca momentum dan mencari pendekatan berbeda dalam memperoleh informasi.
Persiapan Menjadi Kunci
Dalam pemaparannya, Aat mengutip prinsip yang sering digunakan dalam dunia strategi, yakni “Jika ingin damai, maka bersiaplah untuk perang.” Prinsip tersebut, kata dia, relevan diterapkan dalam profesi jurnalistik.
Maknanya, seorang wartawan harus selalu mempersiapkan diri sebelum turun ke lapangan. Persiapan mencakup pemahaman isu, penguasaan data, hingga strategi memperoleh informasi lebih cepat dibanding wartawan lain.
“Wartawan yang memiliki persiapan matang akan lebih optimis menghadapi tekanan pekerjaan, deadline, maupun persaingan media,” katanya.
Menurut Aat, kesiapan mental dan intelektual membuat seorang wartawan lebih percaya diri dalam menghadapi dinamika kerja jurnalistik yang penuh tekanan.
Pengalaman Meliput Presiden Habibie
Dalam sesi tersebut, Aat juga membagikan pengalaman jurnalistiknya saat bertugas di Washington, Amerika Serikat. Ketika itu Presiden RI BJ Habibie menghadiri agenda bersama petinggi perusahaan Boeing.
Di tengah ketatnya persaingan wartawan untuk mendapatkan pernyataan eksklusif, Aat mencoba membaca situasi secara berbeda. Ia memperkirakan Presiden Habibie akan menuju toilet karena kondisi cuaca dingin.
Perkiraan itu ternyata tepat.Aat kemudian bergegas menuju lokasi dan berhasil melakukan wawancara singkat sebelum wartawan lain mendapatkan kesempatan serupa.
Kisah tersebut menjadi contoh bagaimana kreativitas, insting jurnalistik, dan kemampuan membaca situasi menjadi bagian penting dalam profesi wartawan.
“Wartawan harus memiliki naluri dan kecepatan membaca keadaan. Kadang peluang berita datang dari hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain,” ujarnya.
Perubahan Nasib Ditentukan Diri Sendiri
Selain menekankan kreativitas, Aat juga mengingatkan pentingnya pengembangan kapasitas diri. Dengan mengutip pemikiran Nelson Mandela, ia menyebut perubahan nasib sangat bergantung pada pribadi masing-masing serta institusi tempat seseorang bekerja.
Wartawan yang memiliki kemauan berkembang, kata dia, akan terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan menjaga integritas profesinya.
Di sisi lain, perusahaan media juga dituntut mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi dan perubahan industri media.
“Karena itu wartawan tidak boleh berhenti belajar. Dunia jurnalistik terus berkembang, mulai dari teknik penulisan, penggunaan teknologi digital, hingga kemampuan memahami data dan media sosial,” katanya.
Menurut Aat, semakin luas wawasan seorang wartawan, maka semakin besar pula peluang yang dapat diraih di masa depan.
Kompetensi dan Etika Jadi Fondasi
Dalam kegiatan Pra UKW tersebut, peserta juga mendapatkan materi dasar mengenai Standar Kompetensi Wartawan (SKW), Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, serta Pedoman Pemberitaan Media Siber.
Wakil Ketua Bidang Organiasai Djoko Tetuko Abd. Latif, M.Si, yang menekankan pentingnya kompetensi dan etika sebagai fondasi utama profesi wartawan.
Pelaksanaan Pra UKW ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan di Sumatera Utara di tengah tantangan industri media yang semakin dinamis.
Pada akhirnya, wartawan yang kreatif, disiplin, dan terus belajar diyakini akan mampu bertahan sekaligus menjadi bagian penting dalam menghadirkan informasi yang mencerdaskan masyarakat.(*)











