“Habonaron Do Bona” — Kebenaran adalah pangkal dari segala yang ada.
Kalimat sakral ini bukan sekadar deretan kata. Bagi kita, ia adalah kompas moral, sebuah janji bahwa kegelapan sedalam apa pun tak akan mampu menyembunyikan cahaya kebenaran selamanya. Namun, apa jadinya jika sejarah yang kita warisi hari ini ternyata adalah sebuah tabir yang sengaja ditenun untuk menutupi kedaulatan kita sendiri?
Selama berabad-abad, narasi besar Kerajaan Nagur—peradaban agung di tanah Sumatera Utara—seolah “dijajah” oleh historiografi asing yang sarat kepentingan. Kita sering dipaksa menelan mentah-mentah klaim bahwa leluhur marga Sinaga, Purba, dan Saragih adalah pendatang dari India yang hanya “mengekor” klan tertentu.
Ini bukan sekadar kekeliruan catatan. Ini adalah upaya denasionalisasi.
Darah Pejuang yang “Dijinakkan” Narasi
Dengan melabeli leluhur kita sebagai pendatang dari India, narasi ini secara halus mencabut akar kita dari Tanah Ulayat. Jika kita dianggap pendatang, maka hak historis kita atas tanah leluhur menjadi rapuh. Ini adalah strategi klasik kolonial: memutus hubungan manusia dengan tanahnya untuk melumpuhkan kedaulatan pribumi.
Padahal, di dalam nadi Sinaga Uruk, mengalir darah pejuang asli Nagur. Kita bukan tamu di rumah sendiri. Kita adalah pemilik sah peradaban yang egaliter, yang sejak awal berdiri di atas prinsip kesetaraan, bukan hirarki buatan yang menempatkan satu marga di bawah subordinasi marga lainnya.
Stigmatisasi dan Pengaburan Jejak
Betapa menyakitkan ketika catatan asing mencoba mereduksi kemegahan Nagur dengan label “primitif”. Lebih licik lagi, lokasi geografis pusat peradaban kita digeser-geser secara naratif, menciptakan disorientasi identitas. Ketika pusat peradaban dipindahkan dalam buku sejarah, maka hilanglah jejak kedaulatan kita secara perlahan.
Bahkan, konsep asing seperti kasta coba diselipkan ke dalam struktur sosial kita yang luhur. Mereka lupa bahwa Batak punya Habonaron Do Bona. Kita tidak mengenal stratifikasi kaku yang membelenggu; kita mengenal keadilan dan keseimbangan.
Membongkar untuk Menegakkan
Hari ini, kita tidak sedang menolak sejarah. Kita sedang menuntut kejujuran sejarah!
Dekonstruksi narasi Nagur adalah langkah awal untuk merebut kembali subjektivitas kita. Kita bukan objek penelitian yang bisa dilabeli sesuka hati oleh perspektif etnosentris. Kita adalah subjek sejarah yang berdaulat.
Kebenaran yang tak bisa dikubur kini mulai menyembul ke permukaan. Menegakkan kembali sejarah Sinaga Uruk bukan hanya soal kebanggaan marga, melainkan soal menjaga martabat seluruh entitas Batak dari rekayasa yang melemahkan.
Panggilan untuk Kita Semua
Membongkar narasi rekayasa ini adalah tanggung jawab moral setiap orang yang menghormati leluhurnya. Jika kita diam, maka kebohongan yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran oleh anak cucu kita kelak.
Mari bersuara. Mari pulihkan kedaulatan sejarah Nagur.
Bagikan (Share) tulisan ini sebagai bentuk dukungan nyata Anda terhadap pelurusan sejarah. Jangan biarkan obor Habonaron Do Bona padam di tangan generasi kita. Sebab, membongkar narasi palsu adalah langkah pertama untuk menegakkan kembali kebenaran yang hakiki. Horas!.(*)











