• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
Rabu, Agustus 26, 2026
  • Login
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Budaya

Pollong: Kuliner Tradisional Masyarakat Pakpak Dairi yang Kaya Rasa dan Budaya

Redaksi
8 Juni 2024
/ Budaya
0 0
0
Pollong: Kuliner Tradisional Masyarakat Pakpak Dairi yang Kaya Rasa dan Budaya
Share on FacebookShare on Twitter

 

Masyarakat Pakpak Dairi, Sumatera Utara, memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk dalam kuliner. Salah satu makanan tradisional yang menjadi kebanggaan mereka adalah Pollong/pelleng. Makanan ini tidak hanya lezat tetapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan sejarah.

Baca Juga

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Siapkan Revitalisasi Situs Budaya di Maluku Utara

FKUB Lampung dan Keuskupan Tanjungkarang Gelar Pentas Seni Lintas Agama

Wali Kota Medan Dukung Kenduri Diraja Negeri Deli untuk Jaga Warisan Budaya

Asal Usul Pollong

Pollong adalah makanan tradisional yang berasal dari suku Pakpak, salah satu suku Batak yang mendiami daerah Dairi di Sumatera Utara. Dalam bahasa Pakpak, “pollong” berarti ‘campuran’ atau ‘gabungan’, yang mengacu pada proses pembuatan makanan ini yang melibatkan berbagai bahan yang diolah menjadi satu hidangan. Pollong biasanya dibuat pada acara-acara khusus dan perayaan, menjadikannya simbol kebersamaan dan kekayaan budaya masyarakat Pakpak.

Bahan dan Proses Pembuatan

Pollong terbuat dari berbagai bahan alami yang mudah didapat sebagai kekayaan alam. Bahan utama dari pollong adalah beras atau ketan yang dicampur dengan berbagai rempah-rempah lokal, seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, daun salam, dan serai. Daging,daging ayam, juga sering ditambahkan untuk memberikan cita rasa yang lebih kaya dan pengolahannnya dengan masakan tradisional batak dan diolah mirip dengan masakan gulai atau kari.

Proses pembuatan pollong dimulai dengan memasak beras atau ketan bersama dengan santan kelapa hingga matang. Sementara itu, daging yang telah dipotong kecil-kecil ditumis bersama rempah-rempah hingga harum dan matang. Setelah itu, semua bahan dicampur menjadi satu dan dimasak kembali hingga semua bumbu meresap sempurna. Hasilnya adalah hidangan yang memiliki tekstur lembut dengan rasa gurih dan aroma rempah yang khas.

Nilai Budaya dan Tradisi

Pollong bukan sekadar makanan; ia memiliki nilai budaya yang mendalam bagi masyarakat Pakpak. Makanan ini sering dihidangkan dalam upacara adat, pernikahan, dan berbagai perayaan lainnya. Pollong juga menjadi simbol kerukunan dan kerja sama dalam masyarakat, karena proses pembuatannya yang sering melibatkan banyak orang.

Pada saat perayaan, pembuatan pollong biasanya dilakukan secara gotong royong oleh warga desa. Ini bukan hanya tentang memasak, tetapi juga tentang mempererat hubungan sosial dan memperkuat ikatan kebersamaan. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang tinggi dalam masyarakat Pakpak.

Melestarikan Warisan Kuliner

Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh budaya modern, keberadaan makanan tradisional seperti pollong menghadapi tantangan untuk tetap eksis. Namun, masyarakat Pakpak Dairi terus berupaya melestarikan warisan kuliner ini melalui berbagai cara, termasuk memperkenalkannya kepada generasi muda dan mempromosikannya kepada wisatawan yang berkunjung ke daerah mereka.

Beberapa upaya telah dilakukan, seperti mengadakan festival kuliner, lomba memasak makanan tradisional, dan memasukkan pollong dalam menu restoran lokal. Dengan cara ini, diharapkan pollong dapat terus dinikmati dan dikenal luas, bukan hanya oleh masyarakat Pakpak sendiri tetapi juga oleh masyarakat luar.

Penutup

Pollong adalah salah satu contoh nyata bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan sejarah dan budaya leluhur. Melalui setiap suapannya, kita tidak hanya menikmati cita rasa yang lezat tetapi juga merasakan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Pakpak Dairi. Melestarikan makanan tradisional seperti pollong berarti juga menjaga warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang.(*)

Penulis : Wilfrid Sinaga

 

Tags: Dairimasakan tradisionalpellengpollong
SendShareTweet
Kembali

Desa Silahisabungan, Geosite yang Terlupakan: Panggilan untuk Pelestarian Warisan Alam Geopark Kaldera Toba

Lanjut

Jagung Hibrida dan Kopi Menjadi Komoditas Pertanian Unggulan Paling Banyak Diusahakan di Dairi

Baca Juga

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Siapkan Revitalisasi Situs Budaya di Maluku Utara
Budaya

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Siapkan Revitalisasi Situs Budaya di Maluku Utara

23 Agustus 2026
FKUB Lampung dan Keuskupan Tanjungkarang Gelar Pentas Seni Lintas Agama
Budaya

FKUB Lampung dan Keuskupan Tanjungkarang Gelar Pentas Seni Lintas Agama

23 Agustus 2026
Wali Kota Medan Dukung Kenduri Diraja Negeri Deli untuk Jaga Warisan Budaya
Budaya

Wali Kota Medan Dukung Kenduri Diraja Negeri Deli untuk Jaga Warisan Budaya

15 Agustus 2026
Wakil Wali Kota Medan Sambut Sultan Deli: Bahas Kenduri Diraja hingga Revitalisasi Istana Maimun
Budaya

Wakil Wali Kota Medan Sambut Sultan Deli: Bahas Kenduri Diraja hingga Revitalisasi Istana Maimun

12 Agustus 2026
Misa Inkulturasi Etnis Bali di Gereja Katolik Kuta Rawat Tradisi dan Iman
Budaya

Misa Inkulturasi Etnis Bali di Gereja Katolik Kuta Rawat Tradisi dan Iman

11 Agustus 2026
Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026
Budaya

Dayang Nan Tujuh Menggetarkan Gedung Kesenian Jakarta : Membawa Sakralitas Melayu Deli ke Panggung Festival Bedhayan VI 2026

10 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HPN 2026

POPULER

  • Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    Rumah Warga di Depan SMA Negeri 1 Namorambe Diduga Dilempar Bom Molotov, Polisi Selidiki Pelaku

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriahkan HUT ke-81 RI, Karang Taruna Desa Pollung Gelar Lomba Antardusun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukti Otentik Hak Ulayat: Sejarah Enklave Marga Sinaga di Simalungun dan Perjuangan Ruang Hidup Masyarakat Adat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Warisan Kita Hanya Kegaduhan? : Jadilah “Tua-Tua” yang Dicatat Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Caroline Nababan Raih Emas dan Top Score ASMC 2026, The PRINT Apresiasi Prestasi Anak Sumut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemimpinan dalam Marga: Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Rakyat Merasa Tersisih di Tanah Airnya Membedah Paradoks Pertumbuhan Ekonomi, Anomali Keadilan Fiskal, dan Melemahnya Daya Beli di Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
    • Buku

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In