Samosir | galasibot.co.id
Akselerasi pertumbuhan ekonomi sangat terbuka dengan pembangunan 3 program “segitiga emas” yang menghubungkan 7 Kabupaten di Kawasan Danau Toba. Hal itu disampaikan Penggiat Lingkungan, Dr Wilmar Simanjorang saat dimintai tanggapannya seputar penyelenggaraan F1 H20 yang sudah berlangsung sukses di kawasan Danau Toba.

Wilmar yang juga merupakan mantan Bupati Samosir mengatakan bahwa yang dibutuhkan di kawasan Danau Toba adalah pembangunan aksebilitas yang menghubungkan antar kawasan di Geopark Network Danau Toba.
“Yang paling dibutuhkan adalah menggalang partisipasi semua pihak dalam upaya merawat Taman Bumi meliputi hutannya, pebukitan, danau dan yang paling utama adalah budaya lokal.
Faktor pendukung rencana itu adalah PP No 26/200 tentang penetapan Danau Toba Kawasan Strategi Nasional, PP No 52 Tahun 2007 Tentang RIPP Nasional, Bukit Barisan sebagai Kawasan Agropolitan, Perda No 1 Tahun 1990 tentang Kawasan Danau Toba, Permenbudpar No 03 Tahun 2008 tentang Danau Toba tujuan Wisata Unggulan, dan penetapan Danau Toba salah satu dari 10 Prioritas Destinasi Indonesia, Kepres No 81 Tahun 2014. Badan Otoritas Pengelolaan Danau Toba, serta yang paling utama adalah Status Danau Toba sebagai Taman Bumi (Geopark) UNESCO.
Menurutnya pemerintah harus bisa melihat peluang pertumbuhan di segala bidang ketika 7 Kabupaten yang ada di kawasan Danau Toba terhubungna dengan aksebilitas jalan dan jembatan. Segitiga Emas yang pertama adalah Pembangunan Jalan dari Sianjur Mula-mula melintasi Merek menuju Tongging.
Pembangunan jalan ini akan menghubungkan 3 kabupaten sekaligus yaitu Kabupaten Samosir-Dairi-Karo. Panjang jalan yang diperkirakan mencapai 40 kilometer itu diperkirakan membutuhkan anggaran hingga 6 miliar. Namun apabila rencana itu terwujud maka aksebiltas ekonomi akan lancar dan akan menjadi “Pintu Masuk” dari sisi utara menuju Danau Toba.
Kemudian Segitiga emas kedua adalah pembangunan jalan dari Sianjurmula-mula melintasi Tipang menuju Bakkara. Akses ini akan menghubungkan Kabupate Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara.dan akan menjadi pintu masuk dari sisi Selatan menuju Danau Toba.
Sementara segitiga emas ketiga adalah Pembangunan Jembatan Lontung -Sigapiton karena akan menciptakan “Segitiga Emas” Samosir – Toba -Simalungun.
Dengan pembangunan itu akan membuka akses di segala bidang terutama akses kecepatan karena jarak tempuh antara Samosir -Sigapiton akan lebih cepat karens hanya 2,19 kilometer. Jarak ini akan lebih singkat dibanding jarak tempuh melalui jalur danau.
Konsep pembangunan kaksebilitas jalan ini akan membuat semua kawasan pariwisata di kawasan Danau Toba akan menjadi terhubung dan terintegrasi menjadi 1 sebagai Taman Bumi UNESCO.
Wilmar juga mengingatkan bahwa 16 geosite yang ada di kawasan Danau Toba telah diusulkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Dan dengan usulan itulah maka UNESCO telah menetapkan Danau Toba Sebagai Geopark (Taman Bumi) Toba pada tahun 2020 lalu.
Konsekwensi dari penetapan itu adalah kewajiban dan keharusan untuk melestarikan 16 geosite itu sehingga benar-benar bisa menjadi daerah kunjungan dari 1 juta wisatawan.
Kalau pembangunan 3 segitiga emas itu berjalan maka secara otomatis akan menghubungkan 16 geosite yang sudah terdaftar di UNESCO yang meliputi Geosite Sipisopiso-Tongging (Kabupaten Karo), Geosite Silalahi-Sabungan (Kabupaten Dairi), Geosite Haranggaol (Kabupaten Simalungun), Geosite Sibaganding (Kabupaten Simalungun), Geosite Taman Eden (Kabupaten Toba Samosir), Geosite Batu Basiha-TB Silalahi Balige (Kabupaten Toba Samosir), Geosite Situmurun (Kabupaten Toba Samosir), Geosite Hutaginjang (Kabupaten Tapanuli Utara), Geosite Muara Sibandang (Kabupaten Tapanuli Utara), Geosite Sipincur (Kabupaten Humbanghasundutan), Geosite Bakara-Tipang (Kabupaten Humbanghasundutan), Geosite Tele (Kabupaten Samosir), Geosite Pusukbuhit (Kabupaten Samosir), Geosite Hutatinggi Sodihoni (Kabupaten Samosir), Geosite Ambarita-Tuktuk-Tomok (Kabupaten Samosir), Geosite Danau (pemersatu seluruh kabupaten se-kawasan Danau Toba).
Wilmar Simanjorang juga mengingatkan bahwa penetapan UNESCO juga sisusla dengan 6 rekomendasi dengan konsekwensi bahwa penetapan UNESCo akan ditinjau setelah 4 tahun berikutnya.
Dijelaskannya bahwa 6 rekomendai itu adalah Pertama, adalah upaya pemerintah dalam mengembangkan hubungan antara warisan geologis dan warisan teritorial lainnya seperti biotik alami, budaya, tidak berwujud melalui interpretasi, pendidikan dan wisata. Termasuk melatih pemandu lokal, pariwisata, operator dan masyarakat setempat dan lainnya. Kemudian tentang tautan antara geologi dan ekologi, untuk diaktifkan berbagi pengetahuan dengan pengunjung.
Kedua mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. Hal itu berlaku untuk akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas dan produsen produk lokal.
Ketiga, memperkuat keterlibatan dalam aktivitas Global Geoparks Network dan Asia Pasifik Jaringan Geoparks untuk mempromosikan nilai internasional wilayah melalui kemitraan dengan Global Geoparks di bawah payung UGG.
Keempat, mengembangkan strategi pendidikan dengan bekerja dalam kemitraan dengan UGG lainnya.
Kelima, meningkatkan strategi dan kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi mitigasi bahaya alam dan perubahan iklim di sekolah-sekolah untuk populasi lokal.
Keenam memperkuat keterlibatan UGG dalam studi penelitian, konservasi dan promosi penduduk asli setempat dan budaya serta bahasa.
Menurut Wilmar Simanjorang menegaskan bahwa usulan dalam pembangunan kawasan segitiga emas itu sangat tepat dalam menyahuti rekomedasi ke enam dari UNESCO yaitu “mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. Hal itu berlaku untuk akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas dan produsen produk lokal”.(red)
Penulis berita :Wilfrid Sinaga











