Parapat | galasibot co.id
Memulai profesi advokat dari tanah kelahiran bukan sekadar pilihan karier, tetapi sebuah panggilan hati. Di tengah hiruk pikuk bangsa yang terus mencari keadilan, saya percaya bahwa keadilan sejati harus terlebih dahulu ditegakkan dalam diri sendiri dan dalam keluarga. Prinsip ini bukan hanya pedoman pribadi, tetapi juga warisan nilai yang saya bawa dari kampung halaman di Tanah Batak.
Namun, hari ini saya menyaksikan satu realitas pahit: tatanan adat Dalihan Natolu — hukum tertinggi dalam masyarakat Batak — perlahan memudar maknanya. Manat mardonang tubu (bijak terhadap saudara laki-laki), elek marboru (lemah lembut terhadap pihak boru), dan somba marhula-hula (hormat kepada hula-hula) kini diuji, terutama ketika ekonomi keluarga berada di titik terendah. Dalam kondisi itu, nilai-nilai luhur berubah menjadi sumber konflik.
Dalihan Natolu dibangun di atas keseimbangan dan rasa hormat. Ketika salah satu unsur goyah — entah karena kebutuhan ekonomi, kesalahpahaman, atau ego — maka keharmonisan keluarga dan masyarakat ikut runtuh. Ironisnya, saat konflik internal terjadi di tengah lingkaran adat, pemerintah sebagai siha-sihal, pilar keempat yang seharusnya hadir sebagai penengah, sering kali absen atau datang terlalu terlambat.
Dalam praktiknya, sistem Dalihan Natolu yang bersifat tidak tertulis membuat daya ikatnya lemah dalam ranah hukum formal. Di sinilah dilema besar muncul: ketika adat tak lagi mampu menyelesaikan masalah, maka jalur hukum menjadi satu-satunya jalan keluar — meskipun, dalam kearifan Batak, itu adalah pilihan terakhir yang sebaiknya dihindari.
Sebagai seorang advokat yang berasal dari tanah Batak, saya berdiri di persimpangan antara nilai adat dan hukum negara. Profesi ini menuntut keberanian untuk berkata benar dan membela yang tertindas, namun juga mengharuskan saya untuk tetap berpijak pada akar budaya. Menjadi advokat dari tanah kelahiran berarti menjadi penjaga jembatan antara nilai tradisi dan modernitas, antara Dalihan Natolu dan sistem hukum formal.
Saya ingin menjadi bagian dari solusi — bukan hanya di ruang sidang, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan nilai luhur mereka. Karena menegakkan keadilan sejati, dimulai dari rumah sendiri.









