• Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
GALASIBOT.CO.ID
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Tidak ada
Tampilkan semua
GALASIBOT.CO.ID
Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal
Home Opini

Saya Korban Indorayon, dan Hari Ini Saya Masih Bertanya — Untuk Siapa Danau Toba Diperjuangkan?

Penulis adalah : Baldwin Sinaga XVII "Masyarakat adat yang masih bertahan di bawah bayang-bayang Indorayon Kelahiran Siserasera-Girsang, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Parapat Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara – Republik Indonesia"

Redaksi Galasibot.co.id
13 Oktober 2025
/ Opini
0 0
0
Saya Korban Indorayon, dan Hari Ini Saya Masih Bertanya — Untuk Siapa Danau Toba Diperjuangkan?

illustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Saya menulis ini bukan sebagai aktivis, bukan sebagai akademisi, apalagi pejabat. Saya hanya seorang jurnalis warisan — anak dari ayah saya Karden Anton Sinaga Simanjorang XVI yang dulu adalah wartawan dan dalam tulisannya pernah mengangkat perjuangan masyarakat dalam konflik enclave Sitahoan melalui Koran Simponi, sebuah koran terbitan Jakarta pada zamannya.

Saya lahir dan besar di kaki Bukit Barisan, tepatnya di tepi Kaldera Geopark Toba, di bawah naungan hutan pinus yang ditanam oleh orang tua kami lewat program reboisasi pada akhir Orde Lama. Kami tumbuh dengan cerita-cerita tentang tanah adat dan hutan yang memberi hidup — bukan sekadar kayu, tapi juga kebudayaan, harga diri, dan ekosistem yang utuh.

Baca Juga

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

Saya masih ingat, di masa kecil, tiap tahun kami pergi berkelompok ke Enclave Sitahoan untuk menangkap ikan Batak yang melimpah di sungai. Setiap orang bisa memikul satu goni penuh ikan dalam perjalanan pulang. Hutan itu juga menyediakan tanaman pakis tua (tanggiang) yang kami olah menjadi pot anggrek — industri kecil yang lahir dari kearifan lokal. Dari hutan itu pula saudara kami yang lain membuat alat musik garantung, hole, ukiran gorga — semua adalah ekspresi budaya Batak yang hidup.

Tapi semuanya mulai hilang ketika satu nama masuk ke desa kami: Indorayon.

Dari Indorayon ke TPL, Luka Tak Pernah Diganti

Perusahaan ini — yang kini berganti nama menjadi PT TPL — datang membawa janji pembangunan. Tapi yang kami terima adalah penggusuran, perpecahan komunitas, dan perampasan tanah adat.

Sungai Siserasera kini tak lagi mengalir deras. Ia menyusut jadi saluran kecil. Persawahan kami berubah jadi ladang kering karena kehilangan aliran air. Hutan yang dulunya sakral dan hidup, kini menjadi ladang eukaliptus. Kami kehilangan tanah, kehilangan hutan, kehilangan cara hidup. Beberapa saudara kami bahkan kehilangan kebebasan — harus duduk di kursi terdakwa hanya karena mempertahankan tanah warisan leluhur.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya yang menyimpan luka ini. Tapi luka itu terasa kembali menganga ketika saya mendengar dua tokoh nasional pergi ke Swiss dan Israel, membawa misi lingkungan hidup Danau Toba. Tapi tidak ada satu pun kata yang mereka ucapkan tentang konflik tanah adat, perampasan ruang hidup, atau kriminalisasi masyarakat adat akibat keberadaan TPL.

Yang ada justru guyonan di media sosial tentang “Tutup TPL” yang terdengar lebih seperti hiburan ringan, bukan jeritan serius. Bagi kami yang hidup di bawah bayang-bayang Indorayon, itu bukan sekadar lelucon. Itu tamparan.

Kepemilikan Berganti, Tapi Watak Tetap Sama

Indorayon pernah ditutup akibat tekanan besar dari rakyat. Tapi perusahaan ini kembali dengan nama baru: Toba Pulp Lestari. Kepemilikannya pun sudah disebut berpindah tangan — dari kelompok lama ke konglomerasi baru, bahkan melibatkan pemodal asing.

Namun, kami tidak pernah melihat perubahan mendasar dalam cara mereka memperlakukan masyarakat adat. Kami masih dianggap pengganggu, bukan penjaga. Tanah kami tetap digarap sebagai konsesi, tanpa restu dan tanpa pengakuan atas hak ulayat kami.

Maka saya bertanya: untuk siapa Danau Toba diperjuangkan di forum-forum luar negeri itu? Untuk lingkungan? Untuk masyarakat adat? Atau hanya untuk menarik investor dengan narasi hijau yang semu?

Kami Bukan Objek Wisata. Kami Adalah Penjaga Tanah Ini

Saudara-saudara kami di Natinggir, Sihaporas, Onan Harbangan, Pandumaan-Sipituhuta, Nagasaribu, dan banyak komunitas lainnya di sekitar Danau Toba bukan hanya “penduduk sekitar”. Kami adalah penjaga tanah yang diwariskan leluhur kami.

Tapi dalam perjuangan kami, selalu saja muncul upaya pecah belah — termasuk di Simalungun, tanah kami sendiri. Ada yang mengatakan bahwa para pejuang tanah adat bukan pewaris sah. Padahal dari sejarah yang hidup, masyarakat SiSADaPur (Sinaga, Saragih, Damanik, Purba) adalah penghuni awal bumi Simalungun — tanah Habonaron Do Bona. Perbedaan sebutan seperti “Nagori” tidak seharusnya menjadi alasan pemecah belah.

Sejarah penjajahan Belanda mengajarkan kita bahwa politik pecah belah hanya menguntungkan penjajah dan korporasi besar. Jika hari ini kita masih terpecah karena itu, maka kita sedang mengulang kesalahan yang sama. Kita bisa berbeda marga, tapi kita sama-sama pewaris tanah adat.

Suara Ini Untuk Mereka yang Sudah Tak Bisa Lagi Berseru

Saya menulis ini bukan untuk marah, tapi untuk mengingatkan. Keadilan ekologis dan sosial tidak bisa dibawa dalam koper diplomasi. Ia harus dibawa oleh mereka yang merasakan luka, yang kehilangan sawah, yang melihat sungai mengering, yang dipanggil polisi hanya karena mempertahankan hutan.

Mereka yang pergi ke luar negeri atas nama Danau Toba, seharusnya menyadari satu hal: Danau Toba bukan taman nasional tanpa penduduk. Ia adalah rumah. Ia adalah ruang hidup. Ia adalah Geopark Kaldera Toba yang diakui UNESCO — bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena budaya dan manusianya.

Dan selama tanah adat belum dikembalikan, suara kami belum diakui, dan luka kami masih diabaikan, maka Danau Toba bukan simbol pariwisata. Ia adalah saksi kejahatan yang belum selesai. #Kembalikan Tanah Adat. #Akui Luka Kami,#Rebosiasi Hutan,#SelamatkanHutanKemenyan

 

Tags: #Akui Luka Kami#Kembalikan Tanah Adat#Rebosiasi Hutan#SelamatkanHutanKemenyan#SelamatkanHutanPinus
SendShareTweet
Kembali

Komisi 4 DPRD Medan Soroti Maraknya Bangunan Tanpa PBG dalam Kunjungan Lapangan ke Tiga Kecamatan

Lanjut

Pansus Ranperda Pencegahan Kebakaran DPRD Medan Gelar Kunjungan Kerja ke Dinas Damkar

Baca Juga

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan
Opini

IRONI DI BALIK TEROMPET HARI PENDIDIKAN: Ketika Negara Merayakan, Pendidikan Terabaikan

3 Mei 2026
May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”
Opini

May Day 2026: Aktivis Mahasiswa Soroti Perlindungan Buruh, Negara Diminta Jangan Ciptakan “Buah Simalakama”

1 Mei 2026
Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB
Budaya

Mengembalikan Marwah Sinaga Sitolu Ompu: Menolak Egoisme di Ambang Mubes XVI PPTSB

30 April 2026
Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar
Opini

Peredaran Narkoba di Simalungun Diungkap, Tokoh Pemuda Desak Polisi Tangkap Bandar Besar

25 April 2026
Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional
Opini

Low Tourism Danau Toba Jadi Pilihan Strategis Keberlanjutan Kawasan Wisata Unggulan Nasional

23 April 2026
Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi
Opini

Skandal BNI Aek Nabara: OJK Turun Tangan, “Sihir” Viralitas Paksa Bank Pelat Merah Bayar Ganti Rugi

19 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER

  • Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, DPD Patria Sumut: Martir Kristen Itu Kasih, Bukan Membunuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sinergi Budaya dan Alam: PPTSB dan Toba Caldera UNESCO Global Geopark Resmi Jalin Kerja Sama Strategis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SD Budi Murni 2 Medan Raih Juara II Umum Kejuaraan Karate TAKO Piala Direktur POLMED 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harianto Sinaga Tantang Debat Terbuka Bane Raja Manalu: “BPODT Itu Perbaiki, Bukan Bubarkan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengurus Barus Jakarta Barat–Tangerang Resmi Dilantik, Perkuat Solidaritas Keluarga Besar Karo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HARDIKNAS 2026: Seremoni dan Tantangan Substansi yang Belum Tuntas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Praktisi Hukum Volmar Lumbangaol: Kasus BNI Aek Nabara Adalah Kegagalan Sistemik, Bukan Sekadar Penipuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
GALASIBOT.CO.ID

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Tidak ada
Tampilkan semua
  • Beranda
  • News
  • Hukum
  • Olahraga
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sumut
  • Video
  • Jurnal

© 2015 GALASIBOT.CO.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In