KUPANG | galasibot.co.id -;Di tengah dinamika pragmatisme politik yang kian menguat, Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluarkan penegasan penting mengenai etika bernegara. Politik ditegaskan bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, melainkan ruang pengabdian untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
Pesan mendalam ini mengemuka dalam pertemuan silaturahmi antara 29 anggota DPRD Provinsi NTT yang berlatar belakang politisi Katolik bersama Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, di Aula Santo Gabriel, Jumat (8/5/2026).
Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Agung Kupang, RD Leonardus Mali, dalam pembukaannya menekankan bahwa politik harus menjadi perwujudan cinta kasih (caritas).
“Dalam perspektif Gereja, politik bukan semata perebutan kekuasaan, tetapi pelayanan demi kesejahteraan bersama atau bonum commune,” tegas Romo Leo.
Degradasi Kaderisasi Kepemimpinan
Pertemuan ini juga menjadi ajang refleksi kritis bagi para wakil rakyat. Bonifasius Jebarus, anggota DPRD NTT dari Partai Demokrat, menyoroti adanya penurunan pengaruh politisi lokal di kancah nasional maupun daerah akibat lemahnya pembinaan generasi muda.
Ia mendorong Gereja untuk kembali mengaktifkan ruang-ruang pendidikan politik bagi kaum muda agar lahir pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Senada dengan itu, Simprosa Gandut dari Partai Golkar mengharapkan pembinaan politik berbasis Ajaran Sosial Gereja (ASG) agar generasi muda tidak bersikap apatis terhadap politik.
Fokus pada Pendidikan dan Keadilan Sosial
Menanggapi aspirasi tersebut, Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan akan menjadi prioritas utama program lima tahunan Keuskupan Agung Kupang. Pendidikan dipandang sebagai fondasi krusial dalam membangun kualitas umat dan masa depan NTT.
“Sebagai satu tubuh dalam Gereja, kita perlu berjalan seirama dengan tujuan yang sama, yakni mengabdi dan melayani masyarakat,” ujar Mgr. Hironimus.
Beliau juga mengingatkan para anggota legislatif bahwa politik selalu bersentuhan langsung dengan martabat manusia. Oleh karena itu, para politisi diminta tetap teguh memperjuangkan keadilan sosial di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap elit politik saat ini.(*)
Source:
Penulis berita :Wilfrid Sinaga











