Kita sedang hidup di era di mana cermin tidak lagi memantulkan wajah asli kita, melainkan versi yang sudah disetujui oleh algoritma. Media sosial, khususnya platform seperti TikTok dengan lebih dari 156 juta pengguna di Indonesia, telah bermutasi menjadi pabrik raksasa yang memproduksi apa yang disebut oleh filsuf Jean Baudrillard sebagai “Hiperrealitas.” Ini adalah sebuah kondisi di mana simulasi tentang kenyataan terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Lihatlah sekeliling digital kita. Kulit tanpa pori berkat filter kecantikan, senyum yang dipoles demi engagement, hingga drama kesedihan yang dipentaskan demi gift dan viralitas. Kita telah menjadi, meminjam istilah Baudrillard, “Salinan tanpa Model Asli.” Kita sibuk mempercantik silsilah digital (profil), sementara karakter asli kita dibiarkan keropos diabaikan.
Tragedi Simulakrum dan Degradasi Moral
Ketika seorang influencer menjual tangisan demi atensi, atau seseorang memamerkan kemewahan demi kontrak iklan, mereka sedang mempertontonkan Simulakrum yang telanjang. Citra yang mereka tampilkan tidak lagi merujuk pada kebenaran objektif (apa yang sesungguhnya terjadi), melainkan merujuk pada simbol lain: Uang, Popularitas, dan Pengakuan Virtual.
Inilah degradasi moral yang nyata di tengah 156 juta pengguna. Saat makna “meledak” dan hancur dalam setiap scroll yang tanpa henti, kita perlahan menjadi mati rasa. Kita gagal membedakan mana empati yang tulus dan mana empati yang dikomersialkan. Kita kehilangan apa yang dalam kearifan lokal Batak disebut Habonaron Do Bona—Kebenaran sebagai pangkal. Mengapa? Karena “pangkal” kita telah berpindah. Pangkal kita bukan lagi hati nurani atau integritas, melainkan arus algoritma.
Data 156 juta pengguna bukan sekadar angka pasar yang menggiurkan bagi pengiklan; itu adalah medan peperangan nilai yang brutal. Jika kita memilih diam dan hanyut, hiperrealitas ini akan menghapus jati diri bangsa, menggantikannya dengan keseragaman digital yang dangkal. Kita harus mengambil sikap dan tindakan nyata untuk melawan arus ini.
Langkah Strategis: Kembali Menjadi Manusia
Pertama, kita butuh Digital Decoupling (Pemisahan Identitas). Kita harus tegas menolak menjadikan jumlah like, gift, dan viralitas sebagai standar harga diri (self-worth). Generasi muda harus diedukasi bahwa profil media sosial hanyalah alat komunikasi, bukan identitas diri yang sesungguhnya. Kita harus berani tampil tanpa filter “kepalsuan” moral.
Kedua, Restorasi “Habonaron” (Kebenaran Objektif). Kita harus menjadi penyaring (filter) moral di tengah banjir konten. Lawan narasi hiperrealitas dengan narasi “Realitas yang Membumi.” Kampanye seperti “Pulang untuk Melangkah” adalah tindakan nyata untuk membawa orang kembali dari “Gua Plato” digital (di mana mereka hanya melihat bayangan kebenaran) menuju akar budaya dan iman yang konkret, yang tidak diedit.
Ketiga, Advokasi Etika Digital & Literasi Simbol. Kita harus bersikap tegas terhadap konten yang merendahkan martabat manusia demi gift—seperti fenomena mandi lumpur atau eksploitasi kemiskinan (mengemis online). Secara hukum dan moral, kita harus mengingatkan publik bahwa manusia adalah subjek yang mulia, bukan objek konten yang bisa diperjualbelikan.
Keempat, kita perlu Menghidupkan Kembali “Socrates Digital”. Jangan menjadi konsumen pasif. Gunakan ruang digital, seperti TikTok Live, bukan untuk mengemis gift, melainkan untuk Dialog Dialektis. Kita harus berani mempertanyakan tren, menantang logika viralitas, dan mengembalikan fungsi bicara (Pangkataion) sebagai sarana mencari kebenaran, bukan sekadar mencari tontonan.
Akhirnya, kita butuh Gerakan “Anti-Simulakrum” di Komunitas. Kita harus kembali mengutamakan perjumpaan fisik dan aksi nyata (Pangulahonon). Perkuat pertemuan tatap muka, doa lingkungan, atau gotong royong warga. Kehangatan jabat tangan dan kejujuran tatap muka tidak akan pernah bisa digantikan oleh emotikon atau filter tercanggih sekalipun.
Kesimpulan
Menghadapi 156 juta akun yang terpapar hiperrealitas, tugas kita bukan menghapus aplikasinya, melainkan menghancurkan berhala virtualnya. Kita harus membawa pulang setiap jiwa yang tersesat di labirin simulasi menuju rumah kebenaran. Jangan biarkan persona digital Anda lebih mengkilap daripada karakter asli Anda. Saatnya kita berhenti menjadi salinan, dan menjemput kembali realitas untuk menjadi manusia yang berpangkal pada Kebenaran (Habonaron).











