Jakarta | galasibot.co.id
Paus Fransiskus melanjutkan perjalanan apostoliknya dengan terbang ke Papua Niugini, namun kehadiran pemimpin Takhta St. Petrus ini meninggalkan jejak yang dalam bagi seluruh Nusantara, khususnya bagi Komunitas Atma Jaya. Mulai dari mahasiswa, alumni, hingga dosen dan pimpinan universitas, semuanya merasakan dampak positif dari kunjungan tersebut.
“Unika Atma Jaya adalah cerminan Indonesia mini, karena kami terdiri dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan,” ungkap Michell Suharli, Ketua Umum Perkumpulan Alumni Atma Jaya Jakarta. Kehadiran Paus Fransiskus, menurut Michell, mengingatkan kembali pada kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia pada tahun 1989. Saat itu, Paus memberkati Gua Maria dan gedung perkuliahan di kampus Unika Atma Jaya.
Selain kenangan, Paus Fransiskus juga membawa pesan damai dan kerukunan bagi Indonesia yang kaya akan keragaman. Michell menekankan pentingnya merawat keragaman ini sebagai kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa, termasuk di dalam komunitas Unika Atma Jaya.
Dalam salah satu pidatonya, Paus Fransiskus menyebut Indonesia sebagai “negara besar, mosaik budaya,” yang menunjukkan keberagaman yang luar biasa. Beliau juga berpesan agar perbedaan tidak dijadikan alasan untuk bertikai, melainkan diselaraskan dalam kerukunan dan saling menghormati.
Komunitas Atma Jaya turut serta dalam Misa Agung bersama Paus di Gelora Bung Karno, yang dipimpin oleh Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K). Komunitas ini berjalan kaki dari kampus mereka di Semanggi menuju lokasi perayaan bersama umat lainnya, menunjukkan solidaritas dan kekuatan persatuan dalam iman.(*)
Penulis berita : Wilfrid Sinaga











