Jakarta | galasibot co id
Ada momen istimewa yang mungkin terlewatkan oleh ribuan umat yang hadir di Misa Suci Agung bersama Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (5/9/2024) petang. Tepat setelah misa berakhir, sebelum meninggalkan altar, Paus Fransiskus mendekati patung Maria Bunda Segala Suku (MBSS), yang dikenal luas di Keuskupan Agung Jakarta. Beliau berdoa sejenak di depan patung setinggi 180 cm ini dan memegang bagian bawahnya dengan penuh devosi.
Momen ini bukan pertama kali Paus Fransiskus berinteraksi dengan simbol Maria Bunda Segala Suku. Dua tahun sebelumnya, saat audiensi di Vatikan, Paus menerima dua cinderamata dari rombongan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), berupa lukisan dan patung kayu Maria Bunda Segala Suku, yang dihadiahkan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Kardinal Suharyo.
Patung dan lukisan ini bukan hanya karya seni, tetapi juga simbol kebangsaan dan cinta tanah air, yang pertama kali diperkenalkan dalam lomba seni rupa pada tahun 2015. Maria Bunda Segala Suku, dengan bendera merah putih dan motif Garuda Pancasila, melambangkan kemajemukan Indonesia dan devosi kebangsaan.
Lukisan dan Patung Maria Bunda Segala Suku yang merupakan hadiah istimewa dari Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Kardinal Suharyo tersebut diserahkan oleh rombongan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) kepada Paus Fransiskus saat audiensi umum di Basilica St Petrus, Vatikan, Rabu (16/11/2022) lalu.
Pada waktu itu, patung Maria Bunda Segala Suku dibawa dan diserahkan oleh Mercy Tirayoh (KompasTV) dan Rosmeri Sihombing (Media Indonesia), Gora Kunjana (InvestorDaily) dan Willy Masaharu (Indotren).
Selain lukisan dan patung kayu Maria Bunda Segala Suku, PWKI juga menyampaikan kado khusus lainnya kepada Paus Fransiskus, berupa Gunungan Wayang Kulit dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, Kain Batik Ceplok Mangkara Latar Kawung dari GKBRAy Adipati Paku Alam X, dan Buku Karya Rm Sandro Peccati SX – misionaris Italia yang telah 60 tahun berkarya di Indonesia.
Kunjungan resmi PWKI ke Vatikan tahun 2022 tersebut dalam rangka mempromosikan perdamaian dunia yang merupakan amanat Pembukaan UUD 1945 dan Dokumen Abu Dhabi tentang Human Fraternity for World Peace and Living Together – Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama. Dokumen tersebut ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syekh Ahmed El Sayyeb di Abu Dhabi pada Februari 2019. Delegasi PWKI dipimpin oleh Mayong Suryolaksono sebagai Ketua Delegasi dan didampingi AM Putut Prabantoro, Penasihat sekaligus Pendiri PWKI.
Rm Markus Solo Kewuta SVD yang hadir sebagai penerjemah dan Liaison Officer kala itu, menjelaskan bahwa Paus Fransiskus sangat berbahagia dengan hadiah yang dipersembahkan. Selain karena merupakan hadiah istimewa, hadiah-hadiah tersebut sangat khusus sifatnya karena terkait dengan tokoh pemberi hadiah. Masing-masing hadiah yang diberikan kepada Paus Fransiskus dijelaskan secara fisik dan filosofis oleh Rm Markus Solo SVD, satu-satunya pejabat Vatikan yang berasal dari Indonesia. Pimpinan tertinggi Gereja Katolik Sedunia itu juga mendapat penjelasan dari mana hadiah tersebut berasal dan pemberinya.
“Paus sangat mengagumi lukisan dan patung Maria Bunda Segala Suku yang berasal dari Kardinal Suharyo. Beliau menyatakan kekaguman filosofi dari Maria Bunda Segala Suku dengan mengatakan, oh… che belo artinya sungguh indahnya,“ ujar Padre Marco, panggilan akrab Rm Markus Solo.
Dalam misa tersebut, Paus Fransiskus juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pemimpin gereja, biarawati, relawan, dan seluruh umat yang telah menyambutnya dengan hangat di Indonesia. Sebelum mengakhiri kunjungannya, Paus Fransiskus mengajak umat untuk terus memberitakan pesan Injil dengan penuh semangat, sebagaimana para rasul melakukannya pada hari Pentakosta. (*)
Penulis berita :Wilfrid Sinaga











