Medan I galasibot.co.id
Lailatul Badri, tokoh perempuan Medan mendorong agar stakeholder dapat kembali mengaktifkan poskamling, termasuk di Kecamatan Medan Timur.
Hal tersebut disampaikan, Lailatul menyingkapi adanya penembakan Bendahara Kantor Camat Medan Barat.
” Kita menyampaikan prihatin atas peristiwa yang terjadi.Sebagai warga yang tinggal di area tersebut karena saya lahir dan besar di kawasan Medan Timur saya mendorong agar segera diaktifkan kembali poskamling ,” kata wanita berjilbab yang akrab disapa Lela ini kepada wartawan, Rabu (5/10).
Sambung, Lela dengan adanya pengaktifan poskamling tersebut akan dapat meminimalisir tindakan kejahatan.
” Sangat perlu diaktifkan poskamling disetiap lingkungan karena melihat masih tingginya tingkat kejahatan.Dan ini perlu juga melibatkan unsur kepolisian agar dapat ikut berperan serta bersama masyarakat melakukan pejagaan lingkungan ,” kata Lela.
Ia juga mendorong kepada Pemerintah Kota ( Pemko) Medan agar juga dapat mempercepat untuk mengaktifkan CCTV disetiap lingkungan.
” Kita juga berharap kepada Pemko Medan dalam hal ini saudara Wali Kota Medan Bobby Nasution untuk segera merealisasikan CCTV di setiap lingkungan.Melihat dari peristiwa yang terjadi belum lagi soal aksi kejahatan jalanan yang marak perlu kiranya dipercepat program Medan 20.000 CCTV ,” kata Lela.
Ia mengatakan dengan langkah tersebut akan memberikan rasa nyaman kepada masyarakat dan terciptanya situasi yang kondusif di Medan.
Sebagaimana mana dilansir jurnalx.co.id, seorang pegawai negeri sipil ( PNS) yang menjabat Bendahara Camat Medan Barat, Fatma Charina (37), ditembak orang tak dikenal di Jalan Bono, Kelurahan Glugur Darat II, Medan Timur, Selasa (4/10) pukul 20.00 Wib.
Dari informasi yang diperoleh, malam itu korban keluar dari kantornya dengan mengendarai sepeda motor. Saat melintas di Jalan. Bono yang tak jauh dari Kantor Camat Medan Barat, tiba-tiba korban ditembak oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor seorang diri. Akibatnya, peluru bersarang di kaki korban.(*)
penulis berita :Romulo/editor: Pangihutan Sinaga











