
Medan I galasibot.co.id
Pada peringatan Hari Reformasi 31 Oktober 2024, Inang Pdt Debora Furada Sinaga M.Th, Kepala Departemen Diakonia HKBP, menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Edy D.H. Siahaan, STh di Tanjung Morawa. Kunjungan tersebut terjadi di tengah kesibukannya menghadiri serangkaian acara di Medan. Meskipun sudah memasuki usia senja, Pdt. Debora yang juga seorang musisi lansia berusia 71 tahun tetap aktif berkarya, dan dalam kesempatan tersebut, ia berbagi harapan serta meminta dukungan doa terkait pencalonannya untuk posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) HKBP pada Sinode Godang (SG) ke-67 yang dijadwalkan pada Desember 2024 mendatang.
Kunjungan Bersejarah dengan Nuansa Penuh Makna
Kunjungan tersebut, meskipun terbilang sederhana, mengandung makna yang dalam, mengingat hubungan panjang yang terjalin antara Pdt. Debora Sinaga dengan Edy D.H. Siahaan, STh, yang merupakan seorang senior di kampus teologi HKBP. Pdt. Debora bercerita tentang perjalanan hidupnya dalam pelayanan gereja, serta pentingnya dukungan doa untuk mewujudkan visi dan misinya dalam memimpin organisasi gereja terbesar di Indonesia ini.
“Sebagai seorang musisi, saya tidak berhenti berkarya, meskipun usia saya tidak lagi muda,” ujar Pdt. Debora dengan semangat yang masih menyala. “Saya memohon doa agar pencalonan saya untuk Sekjen HKBP dapat didukung, agar saya dapat terus berkontribusi dalam pelayanan gereja,” tambahnya.
Hidup dalam Doa: Refleksi dan Perenungan Firman Tuhan
Dalam suasana santai namun penuh makna itu, Admin pun mengingatkan bahwa hidup dalam doa adalah suatu sikap hidup yang lebih dalam daripada sekadar rajin berdoa. “Hidup dalam doa bukan hanya tentang banyaknya kata-kata yang kita ucapkan, tetapi bagaimana setiap aspek kehidupan kita mencerminkan doa itu sendiri. Seperti yang dikatakan Martin Luther, ‘Laborare ex orationes’ — dari pekerjaanmu keluar doamu,” ujar Edy D.H. Siahaan, merujuk pada ajaran penting dalam iman Kristiani yang mengajarkan bahwa pekerjaan dan aktivitas sehari-hari juga merupakan bentuk doa yang dipersembahkan kepada Tuhan.
Perenungan tentang hidup dalam doa menjadi sangat relevan pada momen pertemuan ini, karena Inang Pdt. Debora Sinaga sendiri mengaku telah membentuk sebuah Tim Doa untuk mendukung pencalonannya menjadi Sekjen HKBP. Pdt. Debora menyatakan bahwa ia ingin seluruh proses ini dipenuhi dengan doa dan kasih, sehingga setiap langkah yang diambil menjadi berkah bagi seluruh jemaat HKBP.
Visi untuk HKBP dan Pencalonan Sekjen
Selama percakapan singkat itu, Pdt. Debora banyak bertanya mengenai apa yang perlu ia lakukan jika terpilih menjadi Sekjen. Edy D.H. Siahaan, STh menjelaskan bahwa seorang Sekjen harus menjadi motor penggerak utama dalam organisasi gereja. “Seorang Sekjen harus mampu merancang dan mengimplementasikan program kerja yang mengacu pada tri tugas panggilan gereja: Koinonia (persekutuan), Marturia (kesaksian), dan Diakonia (pelayanan). Ini penting agar setiap kegiatan gereja dapat terkoordinasi dengan baik dan tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujar Edy. Selain itu, Edy juga mengungkapkan bahwa peran Sekjen adalah untuk memastikan bahwa kegiatan gereja berjalan dengan lancar dan saling mendukung antar setiap bagian. Ia berharap Sekjen bisa menjadi penghubung yang efisien antara Ephorus dan semua departemen gereja, memungkinkan Ephorus untuk fokus pada tugas pastoral dan pelayanan rohani.
Kepemimpinan Inang Pdt. Debora Sinaga di Bidang Diakonia
Pdt. Debora Sinaga, yang selama ini dikenal sebagai Kepala Departemen Diakonia HKBP, memiliki pengalaman luas dalam pelayanan sosial dan rohani. Pelayanan diakonia yang ia pimpin mencakup berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik dari sisi jasmani maupun rohani, serta pengaruh besar terhadap kebijakan sosial-politik dalam kehidupan gereja dan negara.
“Pelayanan Diakonia bukan hanya soal memberikan bantuan sosial, tetapi bagaimana kita menjadikan setiap tindakan kita sebagai bagian dari pelayanan kepada Tuhan dan sesama,” jelas Pdt. Debora. Ia menambahkan bahwa jabatan Kadep Diakonia telah memberinya pengalaman yang cukup dalam mengelola berbagai kegiatan sosial yang sangat penting dalam kehidupan gereja dan masyarakat.
Dengan pengalaman tersebut, Pdt. Debora merasa bahwa dirinya sangat siap dan tepat untuk maju sebagai calon Sekjen HKBP. Menurutnya, posisi Sekjen bukan hanya soal mengelola organisasi, tetapi juga soal bagaimana memastikan visi dan misi gereja dapat diterjemahkan dalam setiap tindakan konkret yang melayani umat dan masyarakat luas.
Mengajak Semua Pihak untuk Mendukung Proses Pemilihan yang Sehat
Pdt. Debora juga menyampaikan kekhawatirannya tentang berbagai praktik tidak sehat dalam proses kontestasi pemilihan Sekjen. Ia mengajak seluruh elemen gereja untuk menjaga integritas dan menjauhi praktik politik yang tidak sesuai dengan semangat gereja. “Saya mengimbau agar kita semua memilih pemimpin berdasarkan kriteria yang objektif, dengan mengedepankan nilai-nilai iman, profesionalisme, dan kompetensi,” tambahnya.
Pdt. Debora juga menekankan pentingnya untuk menjauhkan diri dari pengaruh negatif, termasuk potensi intimidasi atau kontrak politik yang dapat mencederai proses pemilihan yang sehat. “Kita harus memilih dengan hati yang tulus dan penuh doa. Jangan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak damai sejahtera dalam gereja kita,” tegasnya.
Membangun Masa Depan HKBP yang Lebih Baik
Kunjungan Inang Pdt. Debora Sinaga ke rumah Edy D.H. Siahaan, STh di Tanjung Morawa, meski terbilang singkat, meninggalkan kesan mendalam bagi semua pihak yang terlibat. Pdt. Debora bukan hanya seorang pemimpin yang berkomitmen, tetapi juga seorang yang hidup dalam doa, yang selalu berusaha untuk menyelaraskan langkah-langkahnya dengan kehendak Tuhan. Sebagai calon Sekjen HKBP, beliau berharap dapat membawa HKBP ke arah yang lebih baik, lebih terorganisir, dan lebih bersinergi, dengan tetap menjaga integritas dan mengutamakan pelayanan yang berlandaskan kasih dan iman.
Dengan visi yang jelas dan tekad yang bulat, Pdt. Debora siap untuk menghadapi tantangan dalam menjalankan tugasnya jika terpilih, dan berharap dapat membawa HKBP menuju masa depan yang lebih progresif, inklusif, dan penuh harapan.(*)
Penulis berita : Wilfrid Sinaga











