
Dairi I galasibot.co.id
Ribuan kerabat dan masyarakat dari berbagai penjuru Tanah Dairi berkumpul untuk menghadiri dua momen penting sekaligus: Pesta Ulang Tahun ke-40 Simin (Makam) Lingga Sibeak Rakkom serta Peresmian Tugu Empung Pertaki Rangkom Aman Sumanggon Lingga, di Kuta Rangkom, Pegagan Julu, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, pada Sabtu (3/5/2025).
Tugu ini bukan sekadar penanda fisik, melainkan juga monumen budaya yang mencerminkan identitas, nilai-nilai adat, dan spiritualitas masyarakat marga Lingga. Dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Aman Sumanggon, leluhur besar marga Lingga, tugu ini menjadi saksi bisu sejarah panjang, kebersamaan, dan gotong royong yang tetap hidup hingga kini.
Kebaktian Singkat yang Penuh Makna
Acara diawali dengan kebaktian singkat yang dipimpin oleh Pastor Bernardinus Thamrin Berutu, O.Carm, yang membawakan kotbah dari Yohanes 5:25–28. Dalam pesannya, Pastor Thamrin mengajak jemaat untuk membuka hati kepada suara Tuhan yang membangkitkan kehidupan baru. Ia menekankan bahwa segala pengorbanan—dari pemikiran hingga biaya—yang dilakukan demi perayaan ini akan sia-sia jika tidak dilandasi oleh iman kepada kehidupan kekal.
“Kalau kita tidak percaya pada kehidupan yang baru, maka sia-sialah seluruh perjuangan dan pengorbanan untuk sampai ke acara besar ini. Namun saya yakin, Pomparan Lingga Sibeak Rangkom yang solid dan bersatu akan senantiasa diberkati Tuhan,” ujar Pastor Thamrin di hadapan ribuan hadirin yang memadati Aula Katolik Center Rangkom.
Peresmian Tugu: Simbol Identitas dan Persatuan
Prosesi adat membuka peresmian Tugu Empung, dipimpin oleh para tetua adat dan tokoh masyarakat dari Persadaan Lingga Sedunia, termasuk dari empat Lebbuh besar: Lebbuh Sumbul, Lebbuh Abujulu, Lebbuh Kuta Gumba Rangkom, dan Lebbuh Ganda Sumurung. Suasana haru dan hormat menyelimuti prosesi penghormatan leluhur yang dilanjutkan dengan doa dan pemberkatan tugu.
Arsitektur tugu memadukan ornamen khas Pakpak dan relief silsilah keturunan yang tertata rapi, menjadi bukti keuletan serta kecintaan marga Lingga terhadap sejarah dan akar budayanya. Tugu ini diharapkan menjadi pusat kegiatan budaya, musyawarah, dan tempat berhimpun bagi generasi mendatang.
Pagelaran Budaya dan Kesatuan Marga
Dalam wawancara dengan Galasibot, Ketua Umum Panitia Tetap Lingga, ST, MM, yang juga mantan Camat Sumbul, menyatakan bahwa keberhasilan acara ini tidak lepas dari kesadaran kolektif keturunan Aman Sumanggon.
“Kesadaran ni ukur, ni pemparan, ni mpung Aman Sumanggon Lingga—itulah kekuatan utama kita yang mewujudkan acara besar ini,” tuturnya.
Meneguhkan Jati Diri Budaya di Tengah Arus Zaman
Peresmian Tugu dan Pesta Ulang Tahun ke-40 Simin Lingga bukan sekadar seremoni adat, tetapi merupakan manifestasi nyata dari semangat pelestarian budaya di tengah dinamika modern. Momentum ini meneguhkan bahwa warisan leluhur bukan untuk dikenang saja, tapi untuk terus dihidupi dan diwariskan, terutama kepada generasi muda agar mereka tidak tercerabut dari akar budayanya.(*)











